Aplikasi Teknologi Mesin Panen Padi (Combine Harvester) Desa Sungai Badak

0
109
views
aplikasi teknologi

Sebah3gai suatu bentuk teknologi usahatani adalah penggunaan mesin pemanen panen padi atau biasa di sebut Combine Harvester yang dalam penerapannya di tujukan untuk mendukung pencapaian program swa-sembada  beras nasional melalui usaha penurunan susut hasil panen. Kemampuan kerja mesin tersebut mampu menggabungkan kegiatan potong – angkut – rontok – pembersihan – sortasi pengantongan dalam satu proses kegiatan yang terkontrol.

Mesin panen padi dengan proses kegiatan panen yang tergabung dan terkontrol tersebut menyebabkan susut hasil dapat mencapai 1,87 % atau berada di bawah rata-rata susut hasil metode “gropyokan” (sekitar 10%). Sedangkan tingkat kebersihan gabah panen yang dihasilkan oleh mesin tersebut dapat mencapai 99,5%. Mesin panen padi (Combine Harvester) dapat dioperasikan oleh 1 orang operator dan 2 pembantu mampu menggantikan tenaga kerja panen sekitar 50 HOK/ha dan Kapasitas kerja mesin mencapai 5 jam per hektar.

Petani di wilayah Kabupaten Mesuji pun tak ketinggalan dalam Aplikasi teknologi dengan menggunakan mesin panen padi (combine harvester) tersebut. Sebagai contoh pada awal maret 2016 bertempat di hamparan sawah di desa Sungai Badak Kecamatan Mesuji, petani setempat mengaplikasikan mesin tersebut dalam mempermudah panen serta meningkatkan hasil panen mereka dan sebagai informasi para petani di desa Sungai Badak sudah menggunakan mesin panen padi ini sejak tahun 2012. Penggunaan aplikasi teknologi oleh kalangan petani tersebut di rasa merupakan suatu hal positif dan merupakan suatu indikasi petani setempat sudah mulai mengedepankan penggunaan teknologi baru dalam pengelolaan sawah mereka. Di sisi lain, penggunaan teknologi di wilayah Kabupaten Mesuji ini merupakan indikasi meningkatnya kebutuhan sarana panen dan pasca panen oleh petani.

Combine Harvester dalam penerapannya juga perlu memperhatikan kondisi sosial – ekonomi – budaya petani setempat. Di desa Sungai badak sejarahnya sempat mengalami penolakan oleh kalangan tenaga kerja pertanian setempat namun seiring perkembangan waktu penerapan teknologi ini sampai sekarang sudah menjadi suatu kebutuhan bagi para petani di Desa tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here