Budidaya Jagung

0
373
views

Jagung merupakan komoditas tanaman pangan yang utama setelah padi. Jagung selain dapat dikonsumsi juga menjadi bahan utama pada pakan ternak. Perlu budidaya yang intensif untuk tanaman jagung karena kebutuhan setiap tahunnya terus menerus meningkat.

Berikut ini budidaya jagung yang dapat meningkatkan produksi:

  1. Penggunaan VUB jagung (hibrida/komposit) dengan potensi hasil tinggi.
  • Varietas unggul baru (VUB) umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit dan deraan lingkungan setempat atau memiliki sifat khusus tertentu. VUB hibrida antara lain adalah Bima 4, Bima 5, dan Bima 6, sedangkan VUB komposit antara lain Lamuru, Sukmaraga, Srikandi Kuning 1, dan Srikandi Putih
  • Penggunaan varietas unggul akan memberikan pendapatan yang lebih tingg
  • Pemilihan varietas disesuaikan dengan kondisi setempat, keinginan petani, dan permintaan pasar.

 

  1. Benih bermutu dan berlabe
  • Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi (>95%) yang umumnya ditemukan pada benih yang berlabel.
  • Perlakuan benih dengan bahan kimia anjuran seperti metalaksil diperlukan untuk mencegah penularan penyakit bulai

 

  1. Populasi 66.000-75.000 tanaman/ha.
  • Populasi tanaman ditentukan oleh jarak tanam dan mutu benih yang digunakan.
  • Jarak tanam yang dianjurkan adalah 70-75 cm x 20 cm (1 biji per lubang) atau 70-75 cm x 40 cm (2 biji per lubang)
  • Benih yang mempunyai daya tumbuh >95% dapat memenuhi populasi 66.000-75.000 tanaman/ha.
  • Dalam budi daya jagung tidak dianjurkan menyulam karena pengisian biji dari tanaman sulaman tidak optimal
  1. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah
  • Pemberian pupuk berbeda antarlokasi, pola tanam, jenis jagung yang digunakan, hibrida atau komposit, dan pengelolaan tanaman.
  • Penggunaan pupuk spesifik lokasi meningkatkan hasil dan menghemat pupuk.
  • Kebutuhan hara N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan daun jagung dengan Bagan Warna Daun (BWD), sedangkan kebutuhan hara P dan K dengan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).
  • Pupuk N diberikan dua kali, yaitu 7-10 HST dan 30-35 HST.
  • BWD digunakan pada 40-45 HST untuk mendeteksi kecukupan N bagi tanaman.
  • Pada lahan kering, pemberian pupuk P dan K mengacu pada PUTK.
  • Pada lahan sawah, pemupukan P dan Kjuga dapat dilakukan berdasarkan peta status hara P dan K skala 1:50.000.
  • Selain dengan cara di atas, kebutuhan pupuk tanaman jagung juga dapat diketahui melalui uji petak omisi (tanpa satu unsur). Pengujian langsung di lahan petani dengan petak perlakuan NPK (lengkap), NP (minus K), NK (minus P), dan PK (minus N).
  1. Persiapan lahan yang baik.
  • Olah tanah sempurna (OTS) pada lahan kering. Tanah diolah dengan bajak ditarik traktor atau sapi, atau dapat menggunakan cangkul, kemudian digaru dan disisir hingga rata.
  • Tanpa olah tanah (TOT) atau olah tanah minimum pada lahan sawah setelah padi.
  1. Pemberian bahan organik.
  • Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair.
  • Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah.
  • Persyaratan teknis pupuk organik mengacu kepada Permentan No 02/2006, kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri
  1. Pengelolaan air yang baik (saluran irigasi dan drainase).

Pembuatan  saluran  drainase  atau saluran irigasi

Pada lahan kering:

  • Saluran drainase diperlukan untuk pengaliran air dari areal pertanaman, terutama pada musim hujan, karena tanaman jagung peka terhadap kelebihan air.
  • Saluran drainase dibuat pada saat penyiangan pertama dengan menggunakan cangkul atau mesin pembuat alur seperti PAl-2 R rancangan Balitsereal.
  • Pada lahan kering, saluran drainase berfungsi sebagai pematus air pada saat hujan.

Pada lahan  sawah

  • Saluran irigasi diperlukan untuk memudahkan pengaturan pengairan tanaman, dibuat pada saat penyiangan pertama.
  • Saluran irigasi yang dibuat untuk setiap dua baris tanaman lebih efisien dibandingkan dengan setiap baris tanaman
  • Pembumbunan bertujuan untuk memberikan lingkungan akar yang lebih baik, agar tanaman tumbuh kokoh dan tidak mudah rebah.
  • Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama dan pembuatan saluran, atau setelah pemupukan kedua (35 HST) bersamaan dengan penyiangan kedua secara mekanis.
  • Pembumbunan dapat menggunakan  mesin pembuat alur atau cangkul
  1. Pengendalian gulma (penyiangan).

Secara mekanis atau menggunakan  herbisida kontak

  • Penyiangan pertama menggunakan cangkul atau mesin pembuat alur.
  • Penyiangan kedua menggunakan mesin pembuat alur, cangkul atau herbisida anjuran dengan takaran 1-2 liter per hektar, pada saat tanaman berumur 30-35 HST.
  • Periode kritis tanaman jagung terhadap gulma adalah pada dua bulan pertama masa pertumbuhan.

Manfaat penyiangan secara mekanis dengan mesin pembuat alur:

  • ramah lingkungan;
  • hemat tenaga kerja;
  • meningkatkan jumlah udara dalam tanah; dan
  • merangsang pertumbuhan akar.
  1. Pengendalian hama dan penyakit terpadu.

Berdasarkan pendekatan pengendalian secara terpadu:

  • ldentifikasi jenis dan populasi hama oleh petani dan atau pengamat OPT di lapangan.
  • Penentuan tingkat kerusakan tanaman menurut kerugian ekonomi atau am bang tindakan. Ambang tindakan identik dengan ambang ekonomi, yang sering digunakan sebagai dasar teknik pengendalian.
  • Taktik dan teknik pengendalian:
  • Mengusahakan tanaman selalu sehat;
  • Pengendalian secara hayati;
  • Penggunaan varietas tahan;
  • Secara fisik dan mekanis;
  • Penggunaan senyawa hormon;
  • Penggunaan pestisida kimia.
  • Hama utama: lalat bibit, penggerek batang, dan penggerek tongkol.
  • Penyakit utama: bulai, bercak daun, dan busuk pelepah
  1. Panen tepat waktu.

Panen tepat waktu dan pengeringan  segera

  • Panen dilakukan jika kelobot tongkol telah mengering atau berwarna coklat, biji telah mengeras, dan telah terbentuk lapisan hitam minimal 50% pada setiap baris biji.
  • Panen lebih awal atau pada kadar air biji masih tinggi menyebabkan biji keriput, warna kusam, dan bobot biji lebih ringan.
  • Terlambat panen, apalagi pada musim hujan, menyebabkan tumbuhnyajamur, bahkan biji berkecambah.
  • Tongkol yang sudah dipanen segera dijemur, atau diangin-anginkan jika terjadi hujan
  • Tidak menyimpan tongkol dalam keadaan basah karena dapat menyebabkan tumbuhnya jamur.
  • Pemipilan biji setelah tongkol kering (kadar air biji+20%) dengan alat pemipil.
  • Jagung pipil dikeringkan  lagi sampai  kadar air biji mencapai sekitar 15%.
  • Jika cuaca hujan, pengeringan menggunakan mesin pengering, tidak dianjurkan menyimpan jagung pada kadar air biji >15% dalam karung untuk waktu lebih dari satu bulan.

sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/98923/budidaya-jagung/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here