KWT Melati Kembangkan Konsep Pertanian Terpadu dalam Berbudidaya Sayuran

0
12
views
KWT Melati Desa Adi Luhur - Panca Jaya

Kelompok Wanita Tani “Melati” Desa Adi Luhur Kecamatan Panca Jaya Kabupaten Mesuji sekarang mulai menerapkan sistem pertanian terpadu yaitu sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, dan ilmu lainnya yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi peningkatan produktifitas lahan, program pembangunan dan konservasi lingkungan serta pengembangan desa secara terpadu.

Tujuan daripada sistem ini yaitu untuk menjaga keseimbangan ekosistem, sehingga aliran nutrisi atau unsur hara tetap seimbang. Dengan demikian akan menghasilkan produktifitas yang tinggi dan berkelanjutan, produksi yang terjaga secara efektif dan efisien.

Manfaat sistem pertanian terpadu ini yaitu menghasilkan produk lain selain tanaman budidaya, meningkatan pendapatan, meningkatkan kesejahteraan petani.

Disamping kegiatan KWT “Melati” sebagai petani karet yang sudah memanfaatkan pekarangannya dengan membudidayakan aneka sayuran baik ditanam dipekarangan rumah secara langsung atau ditanam menggunakan polibag. Mereka juga memelihara ikan baik di kolam tanah maupun kolam semen. Serta memelihara hewan peliharaan seperti sapi, kambing dan ayam.

Untuk menunjang kegiatan dan aktifitas Kelompok Wanita Tani “Melati” di Desa Adi Luhur Kecamatan Panca Jaya ini maka Pemerintah Kabupaten Mesuji melalui Dinas Pertanian bidang Peternakan memberikan bantuan hewan ternak sapi yang diberikan dengan sitem gadu.

Kelompok Wanita Tani “Melati” dalam beternak sapi ini membudidayakan rumput gajah. Kotoran sapi yang dihasilkan oleh sapi digunakan oleh KWT ‘Melati” sebagai pupuk kandang. Hal ini digunakan apabila pupuk kandang tersebut telah terdekomposisi secara sempurna. Pupuk kandang ini digunakan untuk memupuk sayuran yang telah dibudidayakan dipekarangan. Selain pupuk kandang sapi, KWT Melati juga menggunakan pupuk kandang kambing.

Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari menggunakan air kolam ikan, air cucian beras atau leri maupun air dari sumur. Dalam menanggulangi gulma mereka mencabut gulma secara manual.

Apabila musim panen sayuran telah tiba, selain dikonsumsi sendiri banyak pedagang sayur keliling yang datang untuk membeli hasil tanaman sayuran tersebut dan sisanya dijual diwarung.

Kontributor: Ika Rahmawati, S.P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here