Pencegahan Penyakit Keriting Dengan Pestisida Nabati Di Poktan Makmur Jaya

0
96
views

Poktan Makmur Jaya banyak yang membudidayakan tanaman cabai. Banyak tanaman cabai yang terserang penyakit keriting. Penyakit keriting daun cabai adalah salah satu keadaan pada daun cabai yang menjadi keriting, kuning, kurus dan rontok. sehingga produksi buah menjadi turun. Untuk itu pencegahan terhadap penyakit keriting ini perlu dilakukan sejak dini agar petani tidak mengalami kerugian.

Menurut Yusuf, peneliti BPTP Aceh, “penyakit keriting daun pada cabai dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti kekurangan air, kurang perawatan, kondisi benih dan bibit selama pembibitan serta hama”.

Keriting pada daun cabai bisa disebabkan oleh serangan hama atau disebut organisme pengganggu tanaman (OPT) yang bukanlah virus, jamur ataupun bakteri. Ada beberapa jenis hama yang bisa menyebabkan keriting daun ini. Hama tersebut tergolong dalam jenis kutu-kutuan, yakni thripstungau dan aphids.

Gejala dan cara penanganan terhadap hama-hama ini juga berbeda. Berikut penjelasan mengenai hama dan cara penanganan keriting daun pada tanaman cabai.

  1. Hama Thrips

Gejala fisik yang terlihat pada tanaman cabai adalah adanya bercak-bercak putih atau keperak-perakan/ kekuning-kuningan terutama pada permukaan bawah daun cabai. Bercak-bercak awalnya tampak dekat dengan tulang daun kemudian menjalar ke tulang daun hingga seluruh permukaan daun menguning. Serangan berat daun menjadi berwarna coklat, mengeriting, menggulung sampai akhirnya menjadi kering. Pada akhirnya pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan tidak dapat menghasilkan bunga.

  1. Hama Tungau

Hama tungau yang biasa menyerang tanaman cabe ialah tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah (Tetranycus sp.). Serangan tungau selalu dimulai dari pucuk daun / tunas muda. Serangan ditandai dengan munculnya bintik kuning di permukaan daun yang lama-kelamaan melebar lalu berubah menjadi kecokelatan dan akhirnya menghitam.

Daun yang terserang mengalami perubahan bentuk dan pertumbuhan tunas terhenti. Bagian bawah daun berwarna seperti tembaga dan terdapat benang-benang putih halus. Pada serangan parah, daun-daun cabai berguguran hingga tidak tersisa sama sekali, tunas menghitam kecoklatan dan mati.

  1. Hama Aphids (Kutu Daun)

Gejala serangan aphids hampir mirip dengan serangan tungau. Akibat cairan daun yang dihisapnya, daun menjadi melengkung ke atas, keriting (kadang memelintir ke samping), dan belang-belang. Daun seringkali menjadi layu, menguning, dan akhirnya rontok. Berbeda dengan tungau, kutu aphids memiliki kemampuan berkembang biak sangat cepat, karena selain dapat memperbanyak diri dengan perkawinan biasa, hama ini juga mampu bertelur tanpa pembuahan. (https://8villages.com/full/petani/article/id/59701e3794cdb42c17669605)

Pencegahan sejak dini pada tanaman cabai dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati. Hal ini bertujuan untuk mengusir hama yang menyebabkan penyakit cabe keriting karena pestisida nabati ini mempunyai aroma yang tidak disukai. Dengan menggunakan pestisida nabati ini tidak merusak alam seperti musuh alami hama ini masih ada, tidak membunuh atau memutus rantai makanan, tidak merusak tanah.

Penggunaan pestisida nabati ini ramah lingkungan dan dapat digunakan sebelum tanaman terserang penyakit keriting. Waktu pemberian bisa dilakukan pada pagi atau sore hari, agar dapat diserap oleh tanaman karena stomata daun dalam keadaan terbuka. Dapat diberikan pada daun dengan cara disemprotkan pada bagian bawah permukaan daun atau pada tanahnya yang bertujuan agar dapat diserap oleh akar tanaman.

Intensitas pemberian pestisida nabati dapat dilakukan seminggu sekali, bahan –bahan yang digunakan dalam pestisida nabati ini adalah :

  1. Daun brotowali ¼ kg
  2. Kunyit ¼ kg
  3. Kapur 10 sdm

Cara pembuatannya adalah sebagai berikut :

  1. Daun brotowali dihaluskan dan diambil ekstraknya setelah dicampur dengan air secukupnya.
  2. Menghaluskan kunyit kemudian dibreri air secukupnya
  3. Melarutkan kapur denga air secukupnya
  4. Mencampurkan ketiga bahan tersebut
  5. Memisahkan ampas dan ekstraknya
  6. Ekstrak campuran tersebut ditambah air 30 liter
  7. Memasukkan ekstrak tersebut ke dalam tangki penyemprotan

Cara penggunaan /aplikasinya

  1. Penyemprotan pada pagi dibawah jam 09.00 WIB atau pada waktu sore setelah ashar pukul 16.00 WIB
  2. Penyemprotan dapat dilakukan pada bagian daun atau tanah
  3. Pemberiannya pada tanaman sebelum memasuki masa pembungaan atau fase gegneratif atau pada masa pertumbuhan (fase vegetative)
  4. Dosis / takaran yang digunakan ekstrak ditambah 30-50 liter air.

Kontributor: Ika Rahmawati, S.P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here