PENGELOLAAN SAWAH BUKAAN BARU

0
144
views

PENDAHULUAN

Dalam upaya  mempertahankan swasembada beras dan memantapkan ketahanan pangan nasional, pemerintah telah melaksanakan program intensifikasi pertanaman padi dan ekstensifikasi lahan sawah. Di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung percetakan sawah dilakukan untuk mendukung perluasan areal. Di mana selama ini luas sawah yang ada belum mencukupi kebutuhan pangan untuk wilayahnya.

Adanya alih fungsi lahan sawah menjadi lahan non pertanian mengakibatkan luas sawah berkurang, untuk itu perlu dilakukan pembukaan lahan sawah baru. Namun lahan yang tersedia adalah lahan marjinal seperti Ultisol, Oxisol, Histosol, Entisol dan Spodosol. Berdasarkan sisfat sifat tanah tersebut maka sawah bukaan baru perlakuan khusus untuk memperbaiki sifat kimi malalui ameliorasi, pemupukan, penggunaan varietas tahan dan jaminan ketersedian air irigasi.

 

PERUBAHAN SIFAT – SIFAT KIMIA  SAWAH BUKAAN BARU

Pembukaan sawah bukaan baru yang umumnya dilakukan pada tanah marjinal akan mengalami beberapa masalah, antara lain: (a). kebutuhan air untuk pelumpuran cukup banyak, (b). produktivitas tanah masih rendah, (c) proses perubahan fisikokimia sedang berlangsung akibat penggenangan dapat menggangu pertumbuhan tanaman, seperti keracunan besi atau mangan (Nursyamsi, el al, 1996). Produktivitas tanah rendah berkaitan dengan kemasaman tanah antara lain (a) konsentrasi toksik antara Al dan Mn ( b) kekahatan  Ca dan mg, (c) kemudahan K tercuci, (d) jerapan P, S dan O, (e) pengaruh buruk dari H+ serta (f) hubungan tata air dan udara.

Pada sawah bukaan baru di Lampung, Sumsel, Sumbar, jambi dan Bengkulu umumnya tanaman mengalami keracunan zat besi, (Zaini, el al, 1987). Keracunan besi dijumpai pula pada tanah sulfat masam pada lahan pasang surut dan tanah mineral masam yang disawahkan.

Keracunan besi pada sawah bukaan baru mengakibatkan produksi tanaman rendah atau bisa tidak berproduksi. Pada tanah oxisol di Sitiung Sumatera Barat penggenang pada sawah bukaan baru`menyebabkan konsentrasi  Fe dan  Mn yang larut dalam air meningkat yang menyebabkan keracunan besi pada tanaman. Tanaman padi yang kercunan besi apabila kadarnya kadar besi pada tanaman melebihi 300 ppm (Yusuf, et al, 1990).

Keracunan besi pada tanaman padi ditandai dengan  gejala daun mengalami klorosis atau bercak coklat mulai dari pucuk hingga menyebar ke helai daun, pertumbuhan tanaman kerdil, daun menyempit, anakan terbatas, perakaran pendek.

Pada keracunan besi yang parah daun dari bawahhingga atas akan kuning hingga kemerahan, selain itu serapan hara terhambat akibat akar terselimuti besi oksida.

Pada sawah bukaan baru yang keracunan besi umumnya juga karena kahat unsur hara yang lain, seprti unsur P, K, Ca, Mg dan Zn yang rendah. kahat beberapa hara pada tanaman disebabkan karena kemampuan penyerapan akar yang rendah, sehingga lebih banyak larutan besi yang terserap.

Pada sawah bukaan baru derajat kemasaman tanah atau pH umumnya juga rendah, Hal ini biasanya  karena sawah bukaan baru lebih banyak zat Al dan Fe. Dengan pH yang rendah maka proses penyerapan tanaman tidak optimal, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu, pada akhirnya produksi rendah. salah satu untuk meningkatkan pH tanah adalah dengan memberikan kapur.

 

TEKNOLOGI PENGENDALIAN KERCUNAN BESI DAN KAHAT HARA PADA SAWAH BUKAAN BARU

 

Di awal disebutkan bahwa masalah utama yang timbul pada sawah bukan baru adalah karena kercunan zat besi dan kahat hara. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain, kelarutan besi fero, pH tanah masm, kahat hara P, K,,  Ca, Mg, dan Zn atau kombinasi dari beberpa faktor tersebut.

Beberapa langkah untuk mengurangi keracunan besi adalah dengan memperbaiki lingkungan seperti:

  1. Penggenangan awal untuk menghindari peningkatan Fe2+ sampai puncak
  2. Peningkatan penyediaan O2 di permukaan tanah dengan memutus aliran air rembesan.
  3. Pemberian Ameliorasi dan zat hara melalui pemupukan

 

Pengendalian  drainase Pencucian drainase

Pengelolaan tata kelola air mikro melalu pengairan terputus dapat menanggulangi keracunan besi pada sawah bukaan baru. Perlakuan pengairan terputus dapat mengurangi laju reduksi Fe-2 dan Mn-2 yang meracuni tanaman. Pengairan terputus juga harus hati-hati, karena bis mencuci larutan  kation basa seperti, Ca, K, P dan N

 

Pemberian Ameliorasi dan Pemupukan

Pemberian ameliorasi dapat berupa kapur, pupuk kandang dan bahan organic lainnya. Hal ini karena pemeberian ameliorasi dapat meningkatkan pH tanah dan memperbaiki struktur tanah, sehingga penyerapan hara oleh tanaman dapat berjalan dengan baik. Pemberian pupuk NPK, dapat memberikan ketersedian unsur hara P, N dan K yang dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga akan terjadi keseimbangan unsur hara yang ada di tanah.

 

Perbaikan Fisik Tanah

Fisik tanah yang berhubungan dengan tingkat kesuburan tanah adalah laju infiltrasi. Di lapangan laju infiltrasi berbeda-beda ada yang lambat dan cepat, umunya pada sawah bukaan baru laju infiltrasi bersifat cepat, sehingga penyerapan akan kurang baik. Perbaikan infiltrasi dapat dilakukan dengan pencangkulan dan pelumpuran atau olah lahan sempurna.

 

Perbaikan varietas tanaman

Varietas toleran zat besi peranya sangat penting apabila ditanam di sawah bukaan baru. Kerena varietas toleran mempunyai daya adaptasi dan kemampuan menyerap unsur hara, walaupun kadar zat besi tinggi. Varietas yang toleran terhadap keracunan Fe dan Al, telah banyak diciptakan, dan biasanya untuk lahan sawah rawa. Ada bebrpa varietas yang toleran terhadap keracunan zat besi, yaitu Inpago, Inpara, mendawak, banyuasin

 

PENUTUP

Peluang untuk mengembangkan lahan sawah di luar pulau Jawa masih cukup tinggi, yaitu dengan percetakan sawah baru. Walaupun percetakan sawah baru terjadi pada tanah marjinal yang miskin unsur hara, tetapi dengan pemberian  teknologi yang tepat, maka pemanfaatan dan pengeloaan sawah bukaan baru akan optimal. Pada akhirnya kebutuhan beras secara nasional dapat tercukupi. Yang perlu diperhatikan dalam percetakan sawah baru harus diimbangi dengan pembuatan saluran irigasi, jalan, sehingga dalam kita melakukan pemberian bahan organic, pupuk tidak sia-sia.

 

 

sumber:http://cybex.pertanian.go.id/artikel/99342/pengelolaan-sawah-bukaan-baru/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here