Peranan Penting Kelompok Tani Dalam Pembangunan Pertanian

0
4132
views
Kelompok Tani

Kelompok merupakan kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengadakan interaksi, memiliki tujuan atau goals, memiliki struktur dan pola hubungan di antara anggota yang mencakup peran, norma, dan hubungan antar anggota, serta groupness, dan merupakan satu kesatuan (Hariadi, 2011)

Dalam upaya menuju pembangunan pertanian yang lebih maju, peran kelembagaan pertanian perlu didorong untuk memberikan kontribusi terhadap hal tesebut. Kelembagaan pertanian menjadi sebuah penggerak utama untuk mencapai kemajuan pertanian. Kelompok tani menjadi salah satu kelembagaan pertanian yang berperan penting dan menjadi ujung tombak karena kelompok tani merupakan pelaku utama dalam pembangunan pertanian.

Upaya revitalisasi kelompok tani memang bukan persoalan yang mudah. Banyak hal yang menjadi tantangan terutama pada era sekarang ini. Otonomi daerah menjadi salah satu hal yang secara langsung maupun tidak akan berdampak pada eksistensi kelompok tani. Ada kecenderungan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian terhadap kelembagaan pertanian khususnya kelompok tani. Padahal kelembagaan kelompok tani merupakan asset yang berharga dalam rangka menuju pembangunan pertanian yang maju mengingat bahwa di sebagian besar daerah, pertanian menjadi basis sektor pembangunan.

Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan. Melihat potensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar dapat berkembang secara optimal dan mendukung pembangunan pertanian (Anomin, 2003).

Kelompok tani dengan kontak taninya merupakan kelembagaan sosial yang pokok dalam sistem penyuluhan pertanian. Ia juga merupakan basis dalam aktivitas penyuluhan pertanian. Kelompok tani sebagai suatu unit belajar merupakan wadah/tempat dilakukannya pelatihan atau penyuluhan (Hariadi, 2011).

Beberapa keuntungan dari pembentukan kelompok tani antara lain diungkapkan oleh Torres dalam Mardikanto (1993) sebagai berikut:

  1. Semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan semakin terbinanya kepemimpinan kelompok
  2. Semakin terarahnya peningkatan secara cepat tentang jiwa kerjasama antar petani
  3. Semakin cepatnya proses perembesan (difusi) penerapan inovasi (teknologi) baru
  4. Semakin naiknya kemampuan rata-rata pengembalian pinjaman petani
  5. Semakin meningkatnya orientasi pasar, baik yang berlkaitan dengan masukan (input) maupun produk yang dihasilkannya
  6. Semakin dapat membantu efisiensi pembagian air irigasi serta pengawasannya oleh petani sendiri.

Eksistensi kelompok tani menjadi hal yang perlu diperhatikan secara serius mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi pada era sekarang ini. Pelaksanaan otonomi daerah menjadi salah satu tantangan dalam upaya revitalisasi kelompok tani. Tidak sedikit daerah yang dalam pelaksanaan otonominya cenderung mengabaikan sektor pertanian karena dianggap kurang memberikan sumbangan pendapatan daerah yang besar secara cepat. Hal tersebut tentunya berdampak pada eksistensi lembaga pertanian khususnya kelompok tani.

Sejak era otonomi daerah pada tahun 1999 banyak perubahan kelembagaan penyuluhan termasuk pengurangan tenaga penyuluh, yang mengakibatkan terlantarnya pembinaan kelompok tani. Dengan demikian, dalam paradigma baru penyuluhan pertanian yang menekankan kelompok tani sebagai organisasi yang tangguh di bidang ekonomi dan sosial, diperlukan revitalisasi kelompok-kelompok tani (Hariadi, 2005).

Beberapa hal yang timbul sebagai dampak tidak adanya kelompok tani antara lain:

  • Kegiatan penyuluhan oleh PPL tidak dapat dilaksanakan
  • Petani tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah sebagai akibat tidak adanya kelembagaan pertanian yang dapat mengelola bantuan dengan baik, khususnya kelompok tani.
  • Pola dan teknik pelaksanaan kegiatan usahatani tidak berjalan dengan baik sehingga menimbulkan masalah-masalah dalam usahatani. Misalnya kesulitan air serta serangan hama.

Berikut merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi eksistensi kelompok tani berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan sebelumnya:

# Motivasi anggota kelompok tani

Motivasi merupakan sebuah dorongan yang muncul dari dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu. Motivasi juga berhubungan dengan adanya kebutuhan atau keinginan yang ingin dipenuhi. Semakin tinggi motivasi anggota kelompok tani dalam kegiatan usahatani, maka eksistensi kelompok tersebut akan terjaga. Hal tersebut dikarenakan adanya motivasi untuk memperoleh hasil pertanian yang baik, akan mendorong seseorang untuk terus berkarya dalam kelompok tani.

# Kohesi kelompok

Tingkatan yang menunjukkan anggota kelompok saling tertarik satu dengan yang lain menunjuk pada kohesivitas kelompok. menurut Hariadi (2011), ada tiga makna mengenai kohesivitas yaitu ketertarikan pada kelompok, moral dan tingkatan motivasi anggota kelompok, serta koordinasi dan kerjasama antar anggota kelompok. semakin tinggi tingkat kohesivitas atau ketertarikan pada kelompok maka kelangsungan kelompok akan tetap terjaga.

# Interaksi

Semakin tinggi intensitas interaksi yang terjadi dalam kelompok, maka kelompok akan dinamis sehingga berpengaruh positif terhadap eksistensi kelompok.

# Kepemimpinan dalam kelompok

Pemimpin dalam kelompok tani berperan penting dalam menjaga dinamika kelompok. pemimpin berperan untuk mengorganisasikan, penggerak, teladan, pembibing dalam kelompok tani.

# Tekanan kelompok

Adanya tekanan dalam kelompok baik luar maupun dalam kelompok berpengaruh pada eksistensi kelompok tani. Sebagai contoh dalam studi kasus yang teladh diuraikan sebelumnya, diketahui bahwa adanya tekanan dari luar berupa pergantian pengurus dusun, berpengaruh terhadap kelangsungan kelompok tani

# Peran penyuluh

Penyuluh lebih berperan sebagai pemberi informasi kepada petani, dimana semakin tinggi intensitas penyuluhan dan sesuainya informasi yang dibutuhkan petani akan membuat petani bertahan dalam kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannnya.

Kelompok tani sangat penting dalam proses penyampaian informasi dan teknologi baru kepada petani. Untuk itu sangat perlu diketahui keefektifan kelompok tani sebagai media penyuluhan dalam penyampaian inovasi. Metode penyuluhan kelompok lebih menguntungkan daripada media massa karena akan terjadi umpan balik yang dapat meminimalkan salah pengertian antara penyuluh dan petani dalam penyampaian informasi. Dalam metode ini interaksi yang timbul antara petani dan penyuluh akan lebih intensif. Dalam metode ini petani diajak dan dibimbing secara berkelompok untuk melaksanakan kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja sama.

Efektifitas menunjukkan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan, jika hasil kegiatan makin mendekati sasaran berarti makin tinggi efektifitasnya. Sebuah kelompok tani dinilai efektif, bila kelompok tersebut memiliki karakteristik berikut:

  1. Memahami dengan jelas tujuan sasarannya.
  2. Mampu menetapkan prosedur yang sesuai demi tercapainya tujuan bersama
  3. Komunikasi lancar serta ada pengertian antar anggota
  4. Ketegasan pemimpin dalam mengambil keputusan dengan melibatkan anggotanya
  5. Keseimbangan produktivitas kelompok dan kepuasan individu terjaga
  6. Tanggung jawab kepemimpinan dipikul bersama sehingga semua anggota terlibat dalam menyumbangkan ide atau pendapatnya
  7. Adanya rasa kebersamaan
  8. Mampu mengatasi perbedaan yang terjadi dalam kelompok
  9. Tidak ada dominasi baik oleh pemimpin maupun anggota kelompok
  10. Keseimbangan antara perilaku emosi dan perilaku rasional dalam setiap usaha pemecahan masalah (Soewartoyo dan Lumbantoruan, 1992)

Keefektifan kelompok tani sebagai media penyuluhan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut merupakan faktor-faktor yang berpengaruh secara nyata terhadap keefektifan kelompok tani sebagai media penyuluhan (Kusumaningsih, 2008), antara lain:

# Pengembangan dan pembinaan kelompok

Merupakan sebuah usaha mempertahankan kehidupan kelompok yang meliputi partisipasi semua anggota, penyediaan fasilitas, menciptakan kegiatan-kegiatan, menerapkan norma, serta adanya sosialisasi. Semakin baik pengembangan dan pembinaan kelompok, maka kelompok tani semakin efektif sebagai media penyuluhan.

# Suasana kelompok

Suasana kelompok yang baik didukung oleh adanya hubungan yang baik antar anggota kelompok yang menimbulkan rasa bersemangat pada diri anggota untuk mencapai tujuan bersama.

# Peran penyuluh

Penyuluh berperan dalam memberikan informasi dan teknologi baru kepada petani serta bersedia membantu jika petani mengalami permasalahan dalam berusahatani.

Mosher (1977), dalam uraiannya mengenai syarat pokok dan faktor pelancar pembangunan pertanian, mengemukakan bahwa kegiatan penyuluhan atau pendidikan pembangunan merupakan salah satu faktor pelancar pembangunan pertanian. Penyuluhan atau pendidikan pembangunan adalah pendidikan tentang pembangunan pertanian yang mencakup: pendidikan pembangunan untuk petani, pendidikan bagi petugas penyuluhan pertanian, dan latihan petugas teknik pertanian (Mardikanto, 1993). Disinilah peran kelompok tani sebagai media pembelajaran bagi petani dalam upaya peningkatan produktivitas usahataninya.

Pembangunan pertanian tidak bisa lepas dari modernisasi pertanian dan pedesaan berbudaya industri. Modernisasi pertanian dan pedesaan berbudaya industri adalah mengembangkan ciri-ciri budaya industri, antara lain:

  1. Pengetahuan sebagai landasan utama dalam pengambilan keputusan
  2. Kemajuan teknologi merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya
  3. Mekanisme pasar sebagai media utama dalam transaksi barang dan jasa
  4. Efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumberdaya
  5. Mutu keunggulan merupakan orientasi, wacana, sekaligus tujuan
  6. Profesionalisme merupakan karakter yang menonjol
  7. Ada perekayasaan yang menggantikan ketergantungan pada alam.

Dengan pendekatan tersebut, maka kelemahan-kelemahan dalam sistem pertanian tradisional dapat diperbaiki. Produktivitas sektor pertanian dapat ditingkatkan, demikian pula dengan harkat dan martabat petaninya (Hanani et al., 2003).

(Din/PJ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here