ZOONOSIS

0
2
views

Penyakit zoonosis didefinisikan sebagai penyakit menular yang ditularkan secara alamiah dari hewan domestik atau hewan liar ke manusia dan sebaliknya dari manusia ke hewan. Zoonosis yang terjadi akibat infeksi penyakit dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah anthroponosis. Agen penyebab zoonosis meliputi prion (pembawa penyakit menular yang hanya terdiri dari protein), virus, bakteri, dan parasit serta mikroorganisme yang bermutasi menembus batas (barrier) spesifik. Dan saat ini menjadi isu kesehatan global. Diperkirakan lebih dari 300 penyakit zoonosis (infeksi penyakit hewan ke manusia) dan 25 penyakit hewan menular strategis baru yang dianggap mengancam kesehatan masyarakat ditemukan di Indonesia. Beberapa diantaranya, rabies, avian influenza, anthrax, leptospirosis, hingga toxoplasmosis. Namun demikian, penyampaian informasi mengenai kejadian penyebaran dan penularan wabah penyakit dari hewan ke manusia belum sepenuhnya disampaikan pada masyarakat. Dunia menyaksikan bahwa dalam seabad belakangan ini muncul apa yang disebut sebagai “emerging and re-emerging diseases”. ‘Emerging zoonoses’ merupakan penyakit zoonosis yang baru muncul, dapat terjadi dimana saja di dunia, dan dampaknya berpotensi menjadi begitu parah. Sedangkan ‘re-emerging zoonoses’ merupakan penyakit zoonosis yang sudah pernah muncul di masa-masa sebelumnya, akan tetapi menunjukkan tanda mulai meningkat kembali saat ini. Pada dasarnya ‘emerging and re-emerging zoonoses’ dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: (1) penyakit zoonosis yang baru diketahui (newly recognised); (2) penyakit zoonosis yang baru muncul (newly evolved); dan (3) penyakit zoonosis yang sudah terjadi sebelumnya tetapi akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan insidensi atau perluasan ke wilayah geografis, induk semang atau keragaman vektor yang baru.

Beberapa tahun belakangan ini, dunia mengalami sejumlah kejadian munculnya ‘emerging zoonoses’ yang mengkhawatirkan, seperti highly pathogenic avian influenza (HPAI), hantavirus pulmonary syndrome, West Nile fever (di Amerika Serikat), lyme disease, haemolytic uraemic syndrome (Escherichi coli serotipe O157:H7), dan Hendra virus. Kemunculan ‘re-emerging zoonoses’ dipicu oleh iklim, habitat, faktor kepadatan populasi yang mempengaruhi induk semang, patogen atau vektor. Seringkali menyebabkan peningkatan secara alamiah dan penurunan aktivitas penyakit di suatu wilayah geografis tertentu dan selama berbagai periode waktu. Penyakit yang termasuk dalam ‘re-emerging zoonoses’ adalah rabies dan infeksi virus Lyssa, rift valley fever (RVF), virus Marburg, bovine tuberculosis, brucella sp pada satwa liar, tularemia, plaque, dan leptospirosis.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kejadian ‘emerging zoonoses’ diantaranya pertumbuhan populasi manusia, peningkatan yang cepat dari pergerakan manusia dan produk sebagai hasil dari globalisasi, perubahan lingkungan, perluasan populasi manusia ke wilayah yang sebelumnya tidak dihuni, perusakan habitat hewan, dan perubahan peternakan dan teknologi produksi serta terorisme.

Untuk memberdayakan pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi munculnya ’emerging dan re-emerging maka perlu ditetapkan strategi langkah-langkah komprehensif dan terpadu dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi profesi, lembaga non pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga internasional serta seluruh lapisan masyarakat serta pihak- pihak terkait lainnya. Strategi tersebut antara lain dengan melakukan penelitian terintegrasi yang lebih intensif antara kesehatan manusia dan kesehatan hewan, pendirian pusat penelitian penyakit zoonosis, surveilans yang terstruktur pada hewan domestik, satwa liar, dan manusia, pembentukan tim respon kesehatan dan kesehatan hewan, pembangunan infrastruktur kesehatan masyarakat veteriner, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan peningkatan koordinasi dan penguatan fokus bagi kelembagaan yang terkait dengan penanganan masalah penyakit zoonosis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here