ANCAMAN LIMA PENYAKIT SISTEMIK PADA TANAMAN JERUK

0
100
views

Jeruk merupakan salah satu komodidtas hortikultura yang sangat strategis untuk dikembangkan secara masif dalam menyongsong pasar bebas. Banjirnya jeruk impor mualai di pasar swalayan sampai pasar tradisional mengindikasikan bahwa kebutuhan mansyarakat Inadonesia akan jeruk bermutu sangat besar, sementara mutu jeruk lokal yang beredar di pasaran masih belum setara  dengan jeruk impor. Varietas jeruk unggul lokal  banyak yang layak sejajar dengan jeruk impor, seperti; jeruk keprok Batu 55, jeruk keprok Soe, Keprok Borneo Prima, keprok Pulung, keprok Tawangmangu, siam Kintamani dan Siam Madu.

Kebangkitan jeruk lokal merupakan satu-satunya pilihan yang harus ditempuh bila tidak mau tertindas di negeri sendiri maupun di pasar bebas. Seluruh produk pertanian di 10 Negara ASEAn akan bebas keluar masuk tanpa ada proteksi. Pasar global MEA akan menjadi pasar raksasa tunggal yang akan memasok kebutuhan 3,3 milyar penduduk dari 10 negara ASEAN, ditambah 6 negara mitranya. Produk jeruk lokal harus bisa bersaing di pasar domestik maupun internasinal. Upaya untuk meningkatkan daya saing produk pertanian yang memenuhi syarat internasional anatar laian mutu dan keamanan pangan terjamin, serta residu pestisida rendah. Dalam upaya memenuhi kebutuhan pasokan jeruk, maka usaha penambahan areal luas tanam di sentra-sentra jeruk makin ditingkatkan. Selain itu tantangan penyakit menular juga harus diwaspadi, supaya produksi tetap stabil dan meningkat.

Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit yang disebabkan oleh virus pada tanaman jeruk sangat besar dan menjadi musuh petani. Penyakit yang sangat ditakuti oleh petani jeruk adalah Citrus Vein Phloem degeneration (CVPD), yang juga disebut silent killer, karena memstikan tanaman jeruk secara perlahan-lahan hingga tanaman punah. Serangan CVPD secara nasional selama 5 tahun sejak tahun 2009 – 2013 bergerak secara fluktuatif naik turun baik yang terserang ringan, sedang  dan berat, serta puso.

Penyakit sistemik jeruk meliputi mikro organisme penyakit menular, kelompok virus, viroid, liberobacter, dan mikoplasma. Organisme tersebut merupakan parasit obligat berupa partikel yang hanya dapat hidup pada jaringan tanaman hidup. Pengelompokan tersebut karena gejala penyakit sistemik menular ini mirip dengan lainnya dan sering rancu dengan gejala penyakit abiotik tidak menular karena kekurangan unsur hara mikro.

Lima Penyakit Sistemik Tanaman Jeruk

  1. Penyakit Citrus vein Phloem Degeneration (CVPD) Huanglungbin (HLB)

CVPD telah menyerang sentra jeruk di Indonesia sejak tahun 1960 an, sejak ditemukan oleh Tirtawidjaja (1964) dan merupakanpenyakit yang paling ditakuti. Kerugian akibat CVPD di Indonesia menyebabkan rendahnya produktivitas 7,3 ton/ha dan minimal 3 juta ha jeruk hancur (Tirtawidjaja, 1980).

Menurut Dwiastuti et al. (2011) gejala khas CVPD ialah belang-belang kuning tidak merata  (blotching) dimulai pada ujung bagian tanaman pada daun dengan ketuaan sempurna, lama-kelamaan menjadi kaku dan lebih kecil, tulang daun utama dapat tetap berwarna hijau atau menjadi kuning. Gejala pada ytanaman muda, kuncup berkembang lambat, pertumbuhannya mencuat ke atas dan daun menjadi lebih kecil. Gejala penyakit pada varietas jeruk siem dan keprok mirip dengan gejala difisiensi unsur Zn, Mn, Fe, Mg. Gejal lain yang ditimbulkan adalah greening sektoral, diawali dengan adanya gejala blotching pada cabang-cabang tertentu, apabila gejala telah berat  seluruh daun menguning, terjadi pengerasan tulang daun primer dan skunder (Vein Crocking), buah-buah pada cabang yang terinfeksi menjadi lebih kecil dan tidak simetris (lop sided).

Penyebaran CVPD secara geografis dari satu daerah ke daerah lain atau ke kebun lain dapat melalui bahan tanaman yang terinfeksi, yaitu mata tempel atau benih terinfeksi. Sedangkan penyebaran di dalam kebun anatar atanaman biasanya melaui vektor Diaphorina citri atau melalui mata tempel yang terinfeksi. Pada dataran tinggi penularan memalui vektor cenderung jarang dijumpai.

Tipe hubungan patogrn dalam tubuh vektor bersifat persisten, sirkulatif dan non propagatif, artinya jika vektor CVPD jika telah mengandung L. Asiaticus maka selam hidupnya akan mengandung bakteri, tetapi tidak diturunkan pada anaknya. Vektor dapat menularkan pada tanaman sehat 168 – 360 jam stelah menghisap bakteri. Penularan mealaui alat-alat pertanian terkontaminasi perlu diwaspadai.

  1. Penyakit Tristeza Jeruk ( Citrus Tristeza Virus = CTV)

Penyakit ini merupakan yang paling penting di dunia, menyerang tanaman jeruk di banyak negara dan mengakibatkan kerusakan tanaman cukup parah. Closteroviridae dan genus closterovirus berbentuk partikel benang lentur dengan panjang 2.000 nm dan lebar 12 nm. Berdasarkan sifat molekulnya CTV adalah kelompok virus yang kompleks. Rekasi gejala penyakit di lapangan bervariasi tergantung pada ketahanan varietas, virulensi patogrn dan kondisi lingkungan.

Ada tiga strain yang menimbulkan gejala berbeda, yaitu strain 1, menyebabkan nekrosis floem (phloem necrosis), dengan gejala pemucatan pada tulang daun berupa garis putus-putus atau memanjang yang tembus cahaya : jeruk nipis, jeruk siam dan jeruk keprok. Strain 2 menyebabkan lekuk batang memanjang (stem pitting), dengan cara mengelupas kulit batang, cabang atau ranting : jeruk manis, pamelo dan strain 3 menyebabkan  benih menguning (seedling yellow),dengan gejala benih jeruk mulai menguning: jeruk asam dan grape fruit.

Menurut Pappu et al. (1994) virus dapat menular melalui bahan tanaman yang terinfeksi (entres, benih) dan dengan perantaraan vektor serangga kutu daun (Aphid)

  1. Penyakit Puru Berkayu Jeruk (Citrus Vein enation woody gall = CVEV)

Penyakit ini belum pernah dilaporkan kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Namun dapat menghambat pertumbuhan tanaman menjadi pendek atau kerdil, sehingga akan meurunkan peroduksi. Pada awalnya gejala serangan enation ditemukan di California dan woody gall ditemukan di Australia, gejala serangan penyakit pada tanaman jeruk nipis, menyebabkan timbulnya pembengkakan vena tulang daun berupa tonjolan-tonjolan yang tersebar tidak teratur  pada tulang daun dibawah permukaan daun. Gejala ini mula-mula berukuran kecil dan mulai tampak pada daun-daun muda dan biasanya terjadi 2-3 bulan setelah penularan. Gejala woody gall atau tumor di lapang dapat diamati  pada sambungan (bud union) atau di dekat duri sekitar 6 bulan sejak tertular. Gejala ini mula-mula berukuran kecil dan berwarna pucat keabu-abuan, kemudian berkembang melebar, membesar dan menjadi tak beraturan seperti tumor dan membentuk struktur seperti kembang kol.

Perkembangan penyakit CVEV biasanya terjadi di daerah beriklim dingin dan sedang, tetapi dapat juga terjadi di daerah beriklim panas. Virus ini dapat ditularkan oleh kutu daun coklat (Toxoptera citriceda) dan kutu daun hitam (Toxoptera auranti), Myzus persicae dan Aphis gossypii.

  1. Penyakit sistemik Psorosis Jeruk (Citrus psorosis virus = CPsV)

Psorosis adalah salah satu penyakit jeruk tertua yang menular melalui penyambungan, yang menyebabkan kerusakan di banyak negara khususnya Amerika Latin. Karakteristik gejala dilapangan terlihat adanya gejala kulit bersisik pada batang, pengelupasan kulit batang atau cabang dan biasanya gejala tersebut baru timbul pada 12 tahun setelah tertular. Pada tanaman yang lebih muda gejala sering tidak tampak atau symptomless, apabila ada  variasi gejala anatara lain : Concave gum yaitu pertumbuhan abnormal, membentuk kantong-kantong gum memanjang, Blind pocket, klorotik berbentuk zigzag dan daun menguning pada daun muda. Gejala khas dari penyakit CpsV ini adalah bark scaling, namun biasanya baru nampak gejala pada umur 12-15 tahun.

Penyakit yang disebabkan oleh virus psorosis jeruk (CPsV) bisa disebarkan melalui penggunaan materi tau bahan tanaman seperti benih dan mata tunas yang terinveksi virus CPsV. Virus ini tidak menular secara mekanis, tetapi kemungkinan dapat terbawa melalui biji.

  1. Penyakit Viroid Exorcotis Jeruk ( Citrus exorcotis viroid = CEVd)

Penyakit exorcotis jeruk merupakan penyakit utama jeruk di Australia dengan batang bawah jeruk trifoliate pada tahuan 1940-1n dan 50-an. Namun saat ini sudah jarang terlihat karena telah menggunakan  entres bebas patogen. Penyakit CEVd dapat menginfeksi semua jenis jeruk, tetapi tidak semua menunjukan gejala. Gejala penyakit berkembang ketika entres  yang terinfeksi tumbuh di batang bawah yang rentan seperti Poncirus irifoliate, Rangpur lime, dan kadang-kadang Swingle citrumelo dan citrange. CEVd jarak menginfeksi pada tanaman jeruk yang menggunakan batang bawah JC dan RL. Pertumbuhan tanaman yang terinfeksi  berat biasanya terhambat atau kerdil. Pada tanaman jeruk yang disambung dengan jeruk Trifoliate, gejala penyakit terjadi pada bagian batang bawah yang tampakdi atas permukaan tanah, yaitu kulitnya pecah tak bertauran dan sebagian terlepas dari jaringan kayu dan tumbuh kerdil.

Penyakit CEVd disebabkan oleh virus exorcotis viroid. Viroid ini berada pada tanaman inang sebagai asam nukleat bebas tanpa selubung protein. Viroid dapat ditularkan secara mekanis melalui gunting pangkas atau pisau okulasi. Patogrn ini dapat bertahan lama pada alat pertanian dalam kondisi kering. Di lapangan penularan dapat terjadi melalui pergesekan daun dan akar.

 

Strategi dan Teknik Mencegah Penyakit Sistemik Jeruk

Cara pengendalian penyakit sistemik tanaman jeruk lebih ditekankan untuk menyelamatkan populasi, karena penyakit sistemik akan menjadi sangat berbhaya jika di dalam kebun ada satu dua tanaman terinfeksi dibiarkan dan tidak dikendalikan, kemudian menyebar dengan sangat cepat.

Ada tiga strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah ancaman penyakit sistemik jeruk, yaitu :

  1. Strategi Mengurangi Inokulum Awal

Dalam melaksanakan strategi mengurangi inokulum awal, ada beberapa alternatif yang dapat digunakan, yaitu :

  1. Teknik Terapi : yaitu menghasilkan benih jeruk bebas penyakit dengan teknik shoot tip grafring (STG) in vitro.
  2. Teknik Eksklusi: yaitu penanaman menggunakan benih bebas penyakit yang berlabel, untuk mengurangi jumlah inokulum awal yang berasal dari luar lingkungan tersebut.
  3. Teknik Avoidan : yaitu lokasi penanaman baru berjarak minimal radius2 km dari kebun endemis.
  4. Teknik Eradikasi : yaitu memastikan lokasi penanaman tidak ada tanaman yang terinfeksi, dan jika masih ditemukan, maka segera lakukan pembersihan lahan melalui pembuanagan inang,dan sanitasi kebun.
  5. Teknik Proteksi ; yaitu dengan menghilangkan atau meminimalkan serangga penularnya atau vektor untuk mengurangi tingkat infeksi awal dengan aplikasi racun atau penghalang infeksi lainnya.
  6. Teknik Resistensi : yaitu menggunakan kultivar toleran atau dengan preimunisasi.

 

  1. Strategi Mengurangi Laju Infeksi

Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Teknik Avoidan : yaitu dengan mengurangi laju produksi inokulum laju infeksi dengan jalan mengamati agar tidak ada tanaman inang yang peka terhadap virus atau vektornya.
  2. Teknik Eksklusi : yaitu dengan mengurangi masuknya inokulum dari luar lingkungan tersebut selama terjadi epidemi, ialah selalu melakukan desinfeksi pada alat pertanian yang digunakan dengan alkohol 70 %.
  3. Teknik Eradikasi : yaitu dengan menguragi laju produksi inokulum dengan cara memusnahkan atau membuat sumber inokulum tidak aktif yaitu dengan melakukan penebangan, pemangkasan atau pembongkaran tanaman sakit sampai ke akarnya.
  4. Teknik Proteksi : yaitu dengan mengendalikan vektor baik secara kimiawi atau hayati atau dengan menanam tanaman penghalang masuknya vektor kutu dalam kebun. Misal dengan menanam tanaman sereh, selasih, kecombrang dan mint.

 

  1. Strategi Mengurangi Lamanya Epidemi

Teknik yang dapat diterapkan adalah:

  1. Teknik Avoidan : yaitu dengan menanam kultivar tanaman yang cepat berbuah atau menanam dengan jarak tanam rapat (high desinty) agar cepat menghasilkan dan menguntungkan dalam waktu yang relatif singkat.
  2. Teknik Eksklusi : yaitu menghambat introduksi inokulum dari luar lingkungan tersebut dengan cara mengacu pada peraturan karantina yang menghambat lalu lintas benih dari endemis dengan peningkatan pengawasan dari karantina.

 

sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/98897/ancaman-lima-penyakit-sistemik-pada-tanaman-jeruk/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here