Budidaya Jamur Tandan Kosong Sawit

0
28
views

Usaha Budidaya Jamur Merang di Desa Jaya Sakti, Kecamatan Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji mulai berkembang, seiring prospek pasar jamur merang yang sangat menjanjikan, baik untuk kebutuhan pasar lokal mesuji maupun luar daerah. Seperti yang digeluti oleh Bapak Mujio Petani jamur merang.

Memanfaatkan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai bahan media pertumbuhan jamur merang. TKKS merupakan bahan organik yang sangat baik digunakan sebagai subtrat pertumbuhan jamur merang. Di dalam TKKS banyak mengandung unsur hara atau unsur organik yang dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan jamur merang. Sebelum digunakan TKKS sebagai media pertumbuhan terlebih dahulu dilakukan pengomposan dengan menambahkan unsur hara ke dalam TKKS yaitu kapur dan dedak.Jamur merang merupakan salah satu jamur yang dapat tumbuh pada media limbah organik. Jamur merang termasuk dalam golongan jamur saprofit yaitu jamur yang tumbuh pada substrat organik dari hewan maupun tumbuhan yang sudah mati dan akan mengubah substrat menjadi zat yang mudah diserap (BPTP, 2010). TKKS merupakan limbah yang sangat banyak ditemukan dan sanagt baik sebagai subsrat untuk pertumbuhan jamur merang.

  1. Pembuatan Rumah Untuk Jamur (Kumbung)

Kumbung bisa di buat dari  rangka bambu dinding serta atap plastik, maupun bangunan batu permanen. Ukuran kumbung yang ideal yaitu 6 m x 4 m dengan tinggi 2, 5 m. Di dataran medium untuk menjaga suhu kumbung supaya terus panas,Kumbung terbagi dalam dua baris rack bedengan dari bambu dengan rangka / bambu /kayu. Tiap-tiap baris terbagi dalam 3-5 tingkat rack bedengan. Kumbung dilengkapi dengan jendela atau mungkin electric blower untuk aliran udara, lampu (50 foot candle) yang bisa dipindah-pindah atau mungkin dicabut apabila tengah dikerjakan pasteurisasi serta dipasang waktu pembentukan badan buah. Lampu TL daylight (neon) 60 Watt sejumlah dua buah serta dua buah pemanas (heater) dipakai untuk melindungi suhu ruang 32°C ±2°C.

  1. Fermentasi Untuk Media Tumbuh

Media TKKS dari pabrik sawit diangkut menggukan mobil kemudian diturunkan sesudah diturunkan dari mobil TKKS dikering anginkan selama 2-3 hari sambil dibolak balik supaya kadar minyaknya berkurang, setelah itu TKKS dimasukkan kedalam penampungan bak semen lalu direndam selama 3 hari 3 malam. Kemudian di angkat ditumpukkan dengan dasaran lantai/semen atau terpal setelah itu media TKKS diaduk dengan dedak sebanyak 100 kg dan kapur Dolomid 100 kg.  bahan tersebut diaduk dengan media secara  merata  dengan dibuat  timbunan dengan ukuran 1, 5×1, 5×1, 5 m3. Lalu timbunan ini ditutup dengan selubung plastik serta dilewatkan alami fermentasi sepanjang 5-8 hari.

  1. Pembuatan Pembangkit Uap

Pembangkit uap bisa dikerjakan dengan memakai 4 buah drum tangki (200 ) yang disambung dengan pipa bambu serta paralon ke kumbung. Tangki diisi air ditempatkan lewat cara dibaringkan diatas tungku diluar kumbung, lalu disambung dengan pipa bambu (yang menempel pada tangki) serta pipa paralon yang tidak tipis ke kumbung. Didalam kumbung, pipa ini berlubang lubang untuk keluarkan uap air panas yang datang dari air dalam tangki yang dididihkan. Ukuran pipa paralon yaitu 2-3 cm. Pipa paralon ditempatkan diatas lantai kumbung ditengah-tengah ruang, serta tiap-tiap meternya di beri lubang 8 buah untuk keluarkan uap panas.

  1. Pengisian Media serta Pasteurisasi

Sesudah fermentasi media sepanjang 2-4 hari, bahan kompos dimasukkan ke bagian rak-rak bedengan ditabur dengan dedak sebanyak 15-20 kg kemudian TKKS disiran sampai basah Lalu uap panas dimasukkan ke kumbung lewat pipa untuk meraih temperatur 70°C sepanjang 2-4 jam. Sesudah pasteurisasi, biarlah udara-udara segar untuk masuk hingga temperatur turun sampai meraih 30-50°C. Penurunan temperatur menghabiskan waktu  ± 24 jam.

Sesudah temperatur turun jadi 30-35°C, 8-12 jam lalu bedengan dalam rak-rak siap untuk ditanami bibit. Bibit yang dibutuhkan 1-6% dari berat basah media, bergantung pada strain bibit. Bibit yang dipakai telah terlebih dulu dipisahkan hingga tak berbentuk gumpalan lagi. Bibit itu disebarkan pada semua permukaan kompos. Untuk rack bedengan dengan panjang 3 mtr. serta lebar 1 mtr. diperlukan 4-6 botol bibit berkapasitas 500 ml. Sesudah bibit ditempatkan, tutup jendela serta pintu sepanjang 3 hari. Upayakan supaya temperatur dalam ruang dipertahankan untuk berikan peluang miselium tumbuh serta berpenetrasi ke semua kompos media tumbuh. Besar temperatur amat bergantung pada strain jamur yang dipakai. Tetapi biasanya jamur yang ada di Indonesia tumbuh baik pada temperatur 30-35°C. Selubung plastik bisa dipakai untuk menambah temperatur.

Delapan hari sesudah bibit ditempatkan, upayakan supaya sinar masuk ke kumbung untuk mempercepat pembentukan primodia jamur. Selekasnya sesudah primodia terbentuk, aliran hawa fresh amat dibutuhkan untuk mempercepat perubahan badan buah jamur.

  1. Pengairan serta penyiraman

Semprotkan air dengan sprayer pada permukaan rack bedengan. Campur Urea pada air yang disemprotkan (2-3 sendok makan Urea dalam 20 liter air), serta penyemprotan dikerjakan apabila bedengan kering.

  1. Proses Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dibutuhkan yaitu melindungi suhu serta kelembapan. Upayakan suhu dapat meraih 30-35oC, sedang kelembapan sekitar 80-90%. Selainnya jamur-jamur liar, terlebih type Coprinus mesti dibuang.

  1. Panen serta Pascapanen

Jamur pertama tampak kurun waktu 15–25 hari sesudah bibit ditempatkan. Jamur merang tak boleh dibiarkan hingga mencapai ukuran maksimumnya, namun mesti dipanen sebelum atau tepat sesudah selaput sobek. Waktu panen, jamur diangkat serta dipelintir dengan hati-hati hingga jamur yang tumbuh di sampingnya tak rusak. Panen dikerjakan sepanjang 20–30 hari, dengan interval satu atau dua hari sekali.

Sumber : cybex.pertanian.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here