Budidaya Lada Perdu

0
3509
views

Tanaman lada (Piper ningrum L.) merupakan salah satu komoditas perdagangan dunia yang dikenal dengan sebutan The King of Spice atau Raja Rempah – rempah. Lada di Indonesia dikenal dengan sebutan MERICA atau SAHANG.

Indonesia merupakan negara pengekspor lada terbesar kedua setelah Vietnam, walaupun secara luas lahan perkebunan lada Indonesia lebih luas dibandingkan dengan negara Vietnam.

lada perduLada Perdu atau MERICA PERDU merupakan jenis tanaman lada yang tidak menjalar dan tidak memerlukan tiang panjat. Kenapa lada perdu tidak memanjat atau menjalar? Tanaman lada perdu tidak memiliki sulur panjat, oleh karena itu tanaman ini tidak bisa tumbuh memanjat pada tiang panjat. Tanaman lada perdu tumbuh seperti tanaman perdu pada umumnya.

Keunggulan lada perdu bila dibandingkan dengan lada panjat, diantaranya yaitu:

  1. pemeliharaan tanaman lebih mudah,
  2. pelaksanaan panen lebih mudah,
  3. berproduksi lebih awal (2 tahun),
  4. populasi  tanaman  per  satuan  luas  lebih  banyak  (4000-4500 tanaman/ha),
  5. dapat ditanam secara tumpangsari, dan
  6. dapat ditanam sebagai tanaman sela diantara tanaman tahunan.

Syarat kesesuaian lahan untuk budidaya lada perdu:

  1. Lada perdu dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, antara lain:  Ultison, Inceptisol, Alfisol, dan Andisol.
  2. Kondisi tanah yang dikehendaki adalah tanah yang memiliki aerasi dan drainase yang baik dan kaya bahan organik (subur).
  3. PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi lada perdu berkisar pada pH 5,5–5,6.
  4. Lada merupakan tanaman dataran rendah, ketinggian tempat yang sesuai kurang dari 500 m dpl.
  5. Curah hujan yang dikehendaki antara 2.000-3.000 mm/tahun dengan hari hujan rata-rata 177 hari.
  6. Lada perdu dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada kisaran intensitas cahaya matahari 50-75%.

Beberapa varietas lada unggul yang ada di Indonesia dan sifat keunggulannya:

varietas lada indonesia
Beberapa varietas lada unggul di Indonesia

Persiapan Bahan Tanam Lada Perdu

  • Tanaman lada diperbanyak dengan cara vegetatif melalui penyetekan.
  • Untuk memperoleh tanaman lada perdu, bibit (setek) yang digunakan dapat berasal dari tanaman lada panjat atau tanaman lada perdu yang sudah ada.
  • Bahan tanaman untuk dijadikan lada perdu adalah bagian tanaman yang diambil dari pohon induk. Cabang tanaman yang diambil dipilih cabang buah.
  • Pengambilan setek yang baik dilakukan pada musim penghujan sekitar pukul  00–13.00.
  • Bahan tanaman sebaiknya diambilkan dari cabang tanaman yang tidak sedang berbuah

Bentuk Bahan Tanam yang dihasilkan

# Setek bertapak

Adalah setek cabang buah dengan 3–4 daun dan menyertakan satu buku sulur panjat. Tunas tidur dan daun penumpu yang ada pada buku sulur panjat dipotong agar tidak terbentuk lagi sulur panjat

# Setek Biasa

Adalah setek yang berasal dari cabang buah dengan 2-4 helai daun, diambil dari cabang sekunder dengan cara memotong bagian pangkal setek tepat diatas buku (pada bagian interkalari).

Stek Bertapak dan Stek Biasa
Jenis stek yang dihasilkan untuk bahan tanam

Persiapan Penyemaian

  1. Media tanaman yang baik terdiri dari campuran tanah bagian atas (top soil), pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 2:1:1.
  2. Media  tanam  dimasukkan  ke  dalam  kantong  plastik/polibag yang berukuran: lebar 15 cm, dan tinggi 20–25 cm
  3. Untuk menjaga kelembaban udara di atas petakan ini dibuatkan sungkup plastik transparan setinggi 1 m.
  4. Kelembaban  di  dalam  sungkup  agar  dijaga  pada kisaran 60-80% dengan suhu 27- 30oC.
  5. Naungan atap harus diperhatikan agar intensitas cahaya matahari yang diterima tetap terjaga sekitar 50-75%.
  6. Setelah 2 bulan di dalam sungkup, setek mulai mengeluarkan tunas.
  7. Setelah 3-4 bulan dalam polibag tanaman mulai tampak kekar dan bibit lada siap ditanam di lapangan.

Persiapan Lahan Budidaya

  1. Lada perdu cocok dibudidayakan dengan sistem tumpang sela maupun tumpang sari, karena tanaman ini memerlukan naungan 25 – 50%.
  2. Lada perdu bisa ditumpang sela dengan tanaman perkebunan, misalnya kelapa, cengkeh, mangga dan sengon. Atau ditumpangsarikan dengan tanaman kacang tanah dan jagung.
  3. Tanaman lada perdu yang ditumpang sela dengan tanaman perkebunan memiliki persentase kematian lebih rendah dariapada budidaya lada secara monokultur.
  4. Lada perdu memiliki struktur akar yang dangkal dengan 63,8% perakaran terkonsentrasi pada kedalaman 0-50 cm dari permukaan tanah. Oleh sebab itu jika lada perdu dibudidayakan secara monokultur, sebelum penanaman lada perdu perlu dilakukan penanaman pohon pelindung terlebih dahulu.
  5. Persiapan lahan dimulai pada musim kemarau, sehingga penanamannya dilakukan pada musim hujan, diawali dengan pembersihan lahan, pengajiran dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m atau 1,5 m x 2 m, dan pembuatan lubang tanam dengan ukuran minimal 35 cm x 35 cm x 35 cm.
  6. Menjelang musim penghujan, lubang tanam ditutup dengan campuran tanah atas dan pupuk kandang sebanyak 5–10kg/lubang tanam, sehingga terbentuk guludan individu setinggi ± 20 cm. Penambahan dolomit 0,5 kg/lubang tanam dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Jenis Hama dan Penyakit Lada

  1. Hama penggerek batang (Lophobaris piperis)
  2. Hama penghisap bunga (Diconocoris hewetti)
  3. Hama penghisap buah (Dasynus piperis)
  4. Penyakit busuk Pangkal batang (BPB)
  5. Penyakit kerdil/keriting
  6. Cucumber Mosaic Virus

Muaddin (PPL)

Materi Disampaikan Pada Kegiatan Sosialisasi Pengembangan Lada Perdu Tingkat Kecamatan Panca Jaya (13 Maret 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here