Pengelolaan Hama Tikus pada Padi Sawah

0
101
views

 

Memasuki musim tanam padi, tindakan pengelolaan hama tikus harus dilakukan secara intensif.  Di daerah irigasi dataran rendah di Indonesia, Malaysia dan Vietnam, petani selalu diresahkan oleh ancaman serangan hama tikus baik di musim penghujan maupun di musim kemarau.  Pada padi tadah hujan, serangan tikus terbesar terjadi di musim hujan.  Ketersediaan makanan, air, dan tempat berteduh merupakan faktor yang menyediakan kondisi perkembangbiakan yang optimal. Kehadiran gulma berumput juga memicu perkembangannya. Perkembangbiakan tikus sangat cepat ketika makanan berlimpah.  Daya rusaknya pada tanaman padi cukup tinggi karena dapat menyebabkan penurunan rata-rata 5-10% hasil padi setiap tahun.  Jika ada satu kali panen dalam satu tahun, tikus berkembang biak sekali; jika pertanaman padi dilakukan dua kali dalam setahun, tikus berkembang biak dua kali.

Tikus sawah (Ratus argentiventer) tergolong hama yang relatif sulit dikendalikan. Serangannya dapat terjadi mulai dari fase semai hingga panen, dan bahkan di tempat penyimpanan.  Secara tradisional, pengendalian tikus dilakukan ketika populasinya tinggi. Namun, tindakan pengendalian yang paling efektif adalah dilakukan pengelolaan tiga minggu sebelum masa tanam.

Karakteristik Hama Tikus

Tikus sawah menyerang tanaman padi dengan cara memotong atau mencabut tanaman yang baru ditanam.  Pada tahap anakan aktif padi atau fase pematangan, tikus memotong bibit muda dan memakan tunas padi yang sedang berkembang.

Tikus tidak menyukai tempat yang luas dan terbuka karena lebih rentan terhadap serangan predator. Tikus sawah sangat sensitif terhadap gangguan manusia sehingga jarang ditemukan di sekitar perumahan.  Tikus biasanya bersembunyi dan menggali lubang di daerah rerumputan dekat saluran irigasi utama, di kebun desa, dan di daerah non-tanaman lainnya yang tertutup. Pada masa lahan diberakan, tikus hidup di saluran utama dan kebun desa. Pada fase anakan, 75% waktu tikus berada di liang persembunyiannya di sepanjang tepian sawah, dan fase setelah anakan maksimum 65% dari waktu tikus berada di sawah.

Tikus mencari makan di sawah pada malam hari dengan aktivitas tinggi pada saat senja dan subuh.  Pada siang hari tikus dapat ditemukan di antara vegetasi, gulma, atau ladang dengan tanaman pada fase pematangan. Serangan tikus pada fase generatif menimbulkan kerusakan yang paling parah karena pada fase ini tanaman padi tidak mampu membentuk anakan baru.

Serangan tikus ditandai dengan adanya kerusakan tanaman di tengah petakan sawah.  Kerusakan ini akan meluas ke arah pinggir dan menyisakan beberapa baris tanaman padi di pinggir petakan.

Seekor tikus betina yang berkembang biak di awal musim dapat menghasilkan sebanyak 120 tikus yang memakan tanaman terakhir sampai matang. Menangkap satu ekor tikus betina sebelum ia berkembang biak, sama dengan mengurangi potensi serangan 35 ekor tikus pada saat tanaman berada dalam fase pematangan.

Bagaimana Mengidentifikasi Hama Tikus

Gejala serangan hama tikus dapat ditandai dengan gejala berikut:

  1. Kerusakan pada batang padi.

Batang padi yang rusak karena dimakan tikus sawah terlihat menyerupai kerusakan serangga. Namun kerusakannya dapat dibedakan dengan pemotongan bersih pada 45° anakan.

  1. Hilangnya benih yang berkecambah.

Kerusakannya mirip dengan kerusakan yang disebabkan oleh burung.  Untuk memastikannya, periksa area berlumpur di sekitar tempat kerusakan apakah ada jalur lari tikus, liang aktif, dan jejak tikus sawah.

  1. Terjadinya penundaan kematangan benih.
  2. Terlihat adanya biji-bijian dan malai yang hilang.

 Tindakan Pengelolaan Hama Tikus

Pengelolaan hama tikus memerlukan peran aktif dan kerjasama petani/kelompok tani serta tokoh masyarakat dan harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pratanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu.  Pengelolaan hama tikus penting dilakukan sebelum periode siklus perkembangbiakannya.

Penanaman padi secara serempak merupakan salah satu cara efektif mencegah ledakan serangan tikus.  Penanaman antar petakan sawah yang berdekatan dengan jarak waktu dua minggu berarti memperpanjang musim kawin tikus, karena tikus akan pindah ke tanaman yang baru ditanam dan akan berkembang biak sehingga akan mengakibatkan ledakan jumlah populasi.

Tindakan yang dilakukan untuk pencegahan ledakan serangan hama tikus antara lain:

  1. Menggunakan anjing untuk menemukan liang tikus yang aktif.
  2. Melakukan penggenangan, penggalian atau pengasapan liang tikus.
  3. Memerangkap tikus dengan cara “memancingnya” keluar dari daerah dengan tutupan vegetasi tinggi atau di sekitar desa. Cara ini dilakukan dengan cara memasang jaring di salah satu sisi tempat area keluarnya tikus, kemudian di sisi lain secara bersama-sama dilakukan penggiringan tikus dan di tepi jaring beberapa orang menunggu dengan alat pemukul.
  4. Melakukan gropyokan atau perburuan tikus di malam hari dengan menggunakan senter dan peralatan lengkap (tongkat pemukul, emposan, senapan angin, serta jaring dan sebagainya). Tindakan ini dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat yang terkoordinir dan terencana dalam satu hamparan pertanaman yang luas.
  5. Memasang pagupon/rumah burung hantu sebagai predator alami tikus sawah.
  6. Memasang perangkap pembunuh tikus dengan menggunakan racun tikus terdaftar rodentisida akut atau antikoagulan yang dicampur gabah atau beras yang diletakkan pada jalur lalulintas tikus atau ditempatkan di tempat yang tidak mudah diakses oleh anak-anak, hewan peliharaan, atau ternak.
  7. Pada daerah dengan serangan hama tikus yang cukup tinggi, Tindakan pengendalian juga dapat dilakukan dengan cara memasang sistem perangkap penghalang (Trap Barrier System/TBS) dengan melakukan pemagaran berbahan plastik atau seng di sekeliling petakan persemaian atau sawah yang dilengkapi perangkap bubu pada tiap jarak tertentu

sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/99079/pengelolaan-hama-tikus-pada-padi-sawah/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here