PENGENDALIAN HAMA TIKUS DILAHAN PADI SAWAH SECARA MEKANIS MENGGUNAKAN OSOL DI KECAMATAN MESUJI TIMUR

0
1069
views

Karya Tulis Ilmiah Teknologi Spesifik Lokasi

PENDAHULUAN

Produksi dan produktivitas tanaman padi di Indonesia sering kali mengalami  penurunan bahkan sampai terjadi puso akibat adanya serangan hama. Hal ini disebabkan selain iklim indonesia sangat menunjang perkembangan populasi hama juga sangat dipengaruhi oleh perilaku petani yang menanam padi secara terus-menerus tanpa adanya pergantian tanaman. Kondisi seperti ini akan menyediakan inang hama padi secara kontinyu tanpa terputus. Selain itu perkembangan populasi hama juga disebabkan oleh matinya musuh-musuh alami akibat dari penggunakan pestisida kimiawi yang kurang tepat dan kurang bijaksana.

Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah hama utama tanaman padi yang dapat menimbulkan kerusakan besar pada semua stadium pertumbuhan tanaman mulai dari pesemaian, saat panen dan sampai ke gudang penyimpanan. Kerusakan parah akan terjadi bila tikus sawah menyerang tanaman saat masa generatif, karena saat itu tanaman padi tidak mampu lagi membentuk anakan baru. Karena semua nutrisi yang ada terfokus pada pembentukan malai untuk menghasilkan bulir beras.

Tikus sawah (Rattus argentiventer ) merupakan salah satu hama utama pertanaman padi yang dapat menyebabkan tanaman puso atau gagal panen. Kehilangan hasil gabah akibat serangan hama itu hampir terjadi setiap musim tanam dengan kerusakan mencapai 15-20% tiap tahunnya (Anonim, 2011).

Tikus memiliki karakter biologi yang berbeda dibanding hama padi yang lain seperti serangga dan moluska. Oleh karena itu penangan hama tikus di lapangan harus dilakukan dengan strategi khusus dan relatif berbeda dengan penanganan hama lainnya. Pelaksanaan pengendalian didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi yang dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus serta tepat waktu.

 

Pengendalian tikus sawah pada dasarnya adalah usaha untuk menekan populasi tikus serendah mungkin dengan berbagai metode dan teknologi, salah satunya yaitu metode Gropyokan dengan menggunakan Osol.

 

1.2 Tujuan

Berdasarkan permasalahan tersebut perlu dilakukan upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus secara terus menerus mulai dari saat tanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu yaitu pemanfaatan teknologi pengendalian yang berwawasan lingkungan untuk mengurangi dampak pengendalian secara kimiawi. Salah satunya dengan metode gropyokan menggunakan osol, sehingga petani sebagai pelaku utama mampu dan mau melaksanakan pengendalian hama tikus secara berkelompok dan berkelanjutan.

  1. Tinjauan Pustaka

 

Tikus sawah mempunyai distribusi geografi yang menyebar di seluruh dunia sehingga disebut sebagai hewan kosmopolit. Tikus sawah mudah ditemukan di perkotaan dan pedesaan di seluruh penjuru Asia Tenggara. Hewan pengerat itu menyukai persawahan, ladang, dan padang rumput tempat tikus itu memperoleh makanannya berupa bulir padi, jagung, atau rumput. Tikus sawah membuat sarang di lubang-lubang, di bawah batu, atau di dalam sisa-sisa kayu. Tikus sawah itu adalah jenis hama pengganggu pertanian utama dan sulit dikendalikan karena tikus itu mampu ”belajar” dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya.

Menurut Sudarmaji  (2005) dalam Fatmal (2012), Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera sebagian tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali ke sawah setelah pertanaman padi menjelang fase generatif. Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki, jalur jalan, kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus betina mengalami masa bunting sekitar 21-23 hari dan mampu beranak rata-rata sejumlah 10 ekor. Tikus dapat berkembang biak apabila makanannya banyak mengandung zat tepung. Populasi tikus sawah sangat ditentukan oleh ketersediaan makanan dan tempat persembunyian yang memadai. Tempat persembunyian tikus antara lain tanaman, semak belukar, rumpun bambu, pematang sawah yang ditumbuhi gulma, dan kebun yang kotor

Menurut Rochman (1992) dalam Fatmal (2012), bahwa makanan yang baik untuk pertumbuhan tikus sawah adalah makanan yang mengandung karbohidrat. Adakalanya tikus juga akan memakan jenis-jenis serangga, daging, siput, bangkai ikan dan hewan lainnya. Makanan jenis hewan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan hampir seluruh waktu yang digunakan untuk makan yaitu pada malam hari. Tingkah laku tikus bergerak aktif sambil menggerogoti makanannya sepanjang malam sampai kenyang, tikus membutuhkan makanan setiap hari kira-kira 10-20 % dari berat tubuh, yang berasal dari jenis biji-bijian seperti padi, jagung,

Tikus merupakan salah satu hama yang sulit dikendalikan karena tingkat reproduksinya yang singkat dan kemampuan insting dan gerak tubuh yang lebih baik dari hama lainnya. Menurut Anonym (2011), Populasi tertinggi selalu berkaitan dengan puncak masa generatif.Tikus dapat berenang hingga 72 jam, dapat melompat ke atas setinggi 90 cm, datar  sejauh 1,2 – 3 m, dan tidak cedera meski jatuh dari ketinggian 10 m

Menurut Priyambodo,( 1995) dalam Ngatimin dan Saranga (2012) . Metode pengendalian tikus sawah yang telah banyak diterapkan adalah sanitasi tanaman, penanaman serempak, penggunaan bahan kimia dan secara mekanik. Namun demikian kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan hama tikus masih cukup tinggi Pola serangan tikus sawah dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengendaliannya dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu yaitu pemanfaatan teknologi pengendalian yang berwawasan lingkungan seperti pengendalian dengan Sistem Perangkap Bubu yang dapat menangkap tikus migran yang berasal dari sekitar persawahan.

Menurut Anonym (2011),  Teknologi pengendalian tikus spesifik lokasi mernpakan teknik pengendalian yang sesuai dengan kondisi ekosistem dan sosial ekonomi masyarakat setempat yang diterapkan untuk mengelola agro-ekosistem dengan memperhatikan prinsip-prinsip PHT. Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam penerapan teknologi pengendalian spesifik lokasi, antara lain :

  1. Sedapat mungkin teknologi yang digunakan merupakan teknologi sederhana yang sedikit menimbulkan dampak samping terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat dan timbulnya reaksi seleksi dari hama sasaran,
  2. Teknologi harus dapat lebih memanfaatkan dan mendorong berfungsinya proses pengendalian alami,
  3. Teknologi yang digunakan harus dapat secara mudah dimengerti dan mampu dilaksanakan oleh petani yang memiliki sumberdaya terbatas,
  4. Teknologi spesifik lokasi seyogyanya fleksibel yang menampung inovasi dan variasi sesuai dengan keadaan ekosistem yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Alat perangkap tikus digunakan sebagai alat bantu dalam kegiatan gropyokan atau pengendalian secara mekanis.   Alat perangkap yang sudah dibuat dipasang pada pintu rahasia liang tikus,   Untuk mematikan tikus yang terperangkap, alat penangkap tersebut diangkat dan dibanting-bantingkan ke tanah atau dipukul dengan tangkai cangkul.

Menurut  Mulyatno dan Suweno (2012) Alat perangkap tikus (Osol) telah digunakan petani di desa Paweketan kecamatan Binong Krajan Kabupaten subang Jawa Barat sejak tahun 1975. Alat sederhana ini dinilai oleh petani  di kecamatan mesuji timur sebagai salah satu cara pengendalian yang efektif. Disamping itu dengan system gopyokan menggunakan osol maka kekompakan petani dan kerjasama petani dalam satu kawasan atau hamparan akan selalu terpelihara.

 

 

  1. Hasil Dan Pembahasan

 

Dalam usaha untuk mengatasi kendala yang diakibatkan oleh keberadaan tikus tersebut berbagai alternatif pengendalian telah dilakukan, baik secara kultur teknis, fisik, mekanik, maupun secara kimia. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa pengendalian hama tikus secara kimiawi merupakan alternatif yang paling umum ditempuh dibandingkan dengan cara pengendalian lainnya. Hal tersebut dapat dimengerti karena dengan penggunaan bahan kimia yang beracun, hasilnya dapat segera terlihat dan dapat diaplikasikan secara mudah untuk areal yang luas. Namun penggunaan bahan kimia secara terus menerus untuk mengendalikan berbagai hama dan penyakit telah menimbulkan berbagai masalah baru, terutama bagi lingkungan (Sunarjo, 1992 dalam anonym 2011). Cara pengendalian lain yang dapat dilakukan adalah tanam serempak, sanitasi, pengendalian fisik mekanis, dan pemanfaatan musuh alami (predator).

Beberapa penyebab hama tikus terus menyerang tanaman :

  1. Pengendalian Hama tikus yang dilakukan petani berjalan sendiri-sendiri.
  2. Monitoring yang lemah terhadap hama
  3. Terlambat melakukan pengendalian dan pengendalian sering tidak berkelanjutan
  4. Kurangnya pemahaman terhadap hama tikus dan informasi teknologi dalam pengendalian. Membunuh seekor tikus betina pada waktu tanam sama dengan membunuh 80 ekor tikus setelah berkembang biak. Oleh karena itu dalam mengendalikan hama tikus diperlukan suatu strategi dengan metode konsep pengendalian hama terpadu

 

Osol merupakan alat perangkap sederhana yang terbuat dari bambu dengan panjang 2 ruas yang dibelah-belah dan dianyam membentuk seperti bubu. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonym (2012) yang menyebutkan bahwa peralatan dan bahan yang direkayasa dalam bentuk teknologi spesifik lokasi hendaknya memperhatikan kepraktisan, kesederhanaan, namun dapat memberikan hasil yang efektif. Teknologi yang diperkenalkan seyogyanya dapat dibuat secara sederhana sesuai tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi petani.

Teknologi yang diperkenalkan hendaknya menyederhanakan dan membuat lebih praktis teknologi yang telah tersedia di lokasi, bukan malah membuat semakin rumit bagi si pemakai.

Dengan menggunakan osol kegiatan gropyokan bisa dilakukan dengan jumlah petani minimal 4 orang dan lebih efektif dalam mengendalikan hama tikus.

Metode Gropyokan Dengan Menggunakan Osol

Alat dan bahan yang dipergunakan :

  • Alat Perangkap (Osol)
  • Ember
  • Air
  • Karung
  • Golok/sabit

 

 

 

Pelaksanaan Metode Gropyokan Dengan Menggunakan Osol

Metode gropyokan tikus menggunakan osol sebaiknya dilakukan pada siang hari, karena pada siang hari tikus akan menempati liang liang yang mereka buat untuk bersembunyi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudarmaji  (2005) dalam Fatmal (2012) yang menyebutkan bahwa Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah.

Kegiatan gropyokan tikus menggunakan osol ini lebih efektif dilakukan secara beregu (tim) dengan peserta 4 orang, dari 4 orang tersebut ada pembagian tugas sebagai berikut: tiga orang bertugas mencari lubang tikus, setelah ditemukan alat (Osol) ditancapkan pada lubang tikus. Biasanya dalam satu sarang tikus yang aktif terdapat minimal 2 lubang.

Satu orang bertugas membawa/mencari air untuk disiramkan ke lubang yang telah diberi osol, penyiraman air dilakukan sampai lubang benar-benar terisi air. Diharapkan dengan adanya air yang memenuhi sarang tikus, akan membuat tikus yang ada di dalam sarang keluar dan terperangkap di osol. Kemudian tikus dapat diambil.

Hal ini sesuai dengan pendapat Anonym (2012) yang menyebutkan bahwa Pengguyuran dengan air pada liang aktif tikus menyebabkan kondisi ruangan lubang kekurangan udara akibat tergenang air. Dengan kondisi yang demikian. tikus mengalami kesulitan benafas sehingga berusaha keluar dari liang. Cara penggenangan liang akan baik bila dikombinasikan dengan pemerangkapan menggunakan kala celongcong/bubu perangkap untuk menghadang tikus keluar dari liang, sehingga mudah di bunuh segera.

Dampak positif lain nya yang didapat dari Kegiatan gropyokan tikus menggunakan osol selain mudah dan hemat, adalah petani secara tidak langsung sudah mengurangi penggunakan rodentisida kimia, yang diyakini bila dipakai secara berlebihan dan terus menerus akan berdampak pada kerusakan ekologi alami lingkungan. Selain itu juga secara social metode Kegiatan gropyokan tikus menggunakan osol ini akan memupuk dan memelihara budaya gotong royong, kerjasama, kekompakan dan kepedulian para petani dalam satu hamparan lahan sawah.

  • Kesimpulan Dan Saran

 

4.1  Kesimpulan

  1. Kunci keberhasilan pengendalian tikus ditentukan oleh serangkaian kegiatan yang dilakukan secara serentak dalam areal hamparan, terus menerus sepanjang musim dan antar musim, dilakukan sedini mungkin dan pelaksanaan pengendalian dilakukan terorganisasi secara baik
  2. Pengendalian hama tikus dengan metode gropyokan menggunakan osol, layak dikembangkan dilahan persawahan pasang surut atau irigasi teknis yang air tersedia untuk pengguyuran liang tikus seperti yang telah dilakukan oleh petani di kecamatan Mesuji timur.
  3. Selain kesederhanaan teknologi osol juga dinilai mampu memupuk kekompakan petani dengan pola gropyokan dan gotong royong.

 

 

4.2  Saran

  1. Sebaiknya dibentuk pola penjadwalan kegiatan gropyokan secara serempak dalam kawasan yang luas untuk mengurangi populasi hama tikus dalam satu kawasan
  2. Metode gropyokan tikus menggunakan osol dapat dipadukan dengan pengemposan atau pemakaian bom asap belerang agar hasil hang dicapai maksimal, terutama pada liang liang yang sulit dijangkau dengan air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here