Pupuk Organik

0
21
views

Dalam upaya mewujudkan pembangunan pertanian (agribisnis) di masa mendatang yaitu sejauh mungkin mengatasi masalah dan kendala kritikal diantaranya pemberian nutrisi bagi tanah. Pemberian nutrisi bagi tanah dapat menjadi upaya pencegahan dan antisipasi penurunan produktivitas produk pertanian.

Perlu disampaikan bahwa Mitigasi adalah Tindakan untuk mengurangi besar  atau kecepatan perubahan iklim. Mitigasi pada umumnya merupakan tindakan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Adaptasi: Mengantisipasi dampak buruk dari perubahan iklim dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menanggulangi atau meminimalkan kerusakan yang ditimbulkannya, misalnya dengan memperbaiki system pertanian agar lebih tahan terhadap perubahan iklim dan iklim ekstrem.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mempertahankan kesuburan lahan, dengan mempergunakan pupuk organik, sehingga daya dukung lahan dapat terjaga, tidak terjadi erosi.

Pengertian Dan Manfaat Pupuk Organik

Bahan organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro-fauna tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Beberapa mikroorganisme yang berperan dalam dekomposisi bahan organik adalah fungi, bakteri dan aktinomisetes. Pengaruh positif yang lain dari penambahan bahan organik adalah pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman. Sisa tanaman dapat berperan sebagai suatu cadangan yang dapat didaurkan kembali untuk pengawetan hara. Sisa tanaman sering digunakan untuk berbagai tujuan. Dilingkungan petani kita, sebagian besar jerami padi digunakan untuk alas ternak dan sebagai pakan ternak. Untuk tujuan ini, sebagian besar hara yang terkandung dalam sisa, kemungkinan dikembalikan ke tanah dalam bentuk pupuk kandang jika kotoran ternak tersebut ditangani dengan tepat.

Sumber-sumber bahan organik di sekitar lahan pertanian antara lain:

  • Limbah pertanian Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, semua bagian vegetatif tanaman, batang pisang, sabut kelapa
  • Limbah residu ternak. Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, cairan biogas
  • Pupuk hijau. Glirisida, terrano, mukuna, turi, lamtoro, sentrosema, albisia
  • Tanaman air, Azola, , enceng gondok, gulma air
  • Limbah industri. Sebuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan hewan.

Membuat Pupuk Organik Kompos

Pengomposan merupakan suatu teknik pengolahan limbah yang berupa bahan organik padat diuraikan dengan menggunakan mikroorganisme dekomposer. Selain menjadi pupuk organik maka kompos juga dapat memperbaiki struktur tanah, memperbesar kemampuan tanah dalam menyerap air dan menahan air serta zat-zat hara lain. Pengkomposan alami akan memakan waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 2-3 bulan bahkan 6-12 bulan. Pengkomposan dengan bantuan mikroorganisme pengompos dapat berlangsung lebih cepat dengan bantuan mikroorganisme. Pengomposan pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Yang dimaksud mikrobia adalah bakteri, fungi dan jasad renik, sedangkan bahan organik adalah jerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan/ ternak, dedaunan, rumput, sisa-sisa ranting dll.

Adapun kelangsungan hidup mikroorganisme tersebut didukung oleh keadaan yang basah dan lembab. Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun, proses tersebut berlangsung lama sekali, dapat mencapai puluhan tahun, bahkan berabad-abad. Padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karenanya, proses tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia. Dengan cara yang baik, proses mempercepat pembuatan kompos berlangsung wajar sehingga bisa diperoleh kompos yang berkualitas baik. Untuk mendapatkan ukuran bahan yang sesuai standar 2,5 hingga 4 cm, jerami dipotong.

Agen composting di dalam media kompos menggunakan oksigen untuk menguraikan bahan organik menjadi CO2 dan H2O. Hal ini menyebabkan suhu meningkat. Setelah bahan terurai, suhu akan menurun dan terjadi pematangan kompos. Mikroorganisme yang berperan di dalam kompos diantaranya dari kelompok fungi, actinomicetes, dan bakteri.

Langkah Pembuatan Kompos

Menyiapkan kotak pengomposan

  1. Bambu/kayu dipotong setinggi 1-1,25 cm. Bambu dibelah menjadi 6-8 bagian tergantung besar kecilnya bambu.
  2. Bambu yang sudah dipotong dan dibelah disusun seperti pagar, dipaku atau diikat dengan tali kawat. Lebarpagar adalah 1 m ketinggian 100-125 cm.
  3. Setiap kotak kompos terdiri atas 5 buah pagar, 4 pagar dibuat untuk wadah bahan organik yang akan dikomposkan sedangkan 1 pagar untuk penutupnya

Persiapan bahan

  1. Bahan jerami bisa dipotong lebih dahulu maupun tidak dipotong. Bahan organik yang sudah kering, dibasahi lebih dahulu dengan air hingga merata sehari sebelum pengomposan.
  2. Siapkan air bersih secukupnya untuk mencampur dekomposer.

Pelaksanaan pengomposan

  1. Jerami yang sudah dibasahi dimasukkan ke dalam kotak pengomposan setinggi 20-25 cm
  2. Dekomposer padat atau cair ditaburkan di atas tumpukan jerami. Untuk meratakan bisa dengan cara diciprat dengan air sehingga dekomposer bisa masuk kedalam tumpukan jerami.
  3. Masukkan kembali jerami diatas tumpukan jerami pertama, kemudian taburkan dekomposer.
  4. Lakukan hal seperti tersebut hingga kotak kompos hampir penuh, tinggalkan sedikit ruang dalam kotak untuk sirkulasi udara.
  5. Tumpukan jerami ditutup dengan terpal atau plastik untuk menjaga kelembaban

Pemeliharaan selama proses pengomposan

Kompos dibalik setiap minggu. Kompos matang 2-3 minggu tergantung jenis bahan kompos. Selama proses pengomposan terjadi perubahan suhu

Ciri-ciri kualitas kompos yang sudah matang sebagai berikut :

  1. Bentuk fisik sudah menyerupai tanah, berwarna coklat tua hingga hitam (coklat kehitam-hitaman)
  2. Tidak mengeluarkan bau busuk (berbau tanah)
  3. Mempunyai tekstur remah dan gembur (berupa remukan)
  4. Memiliki C/N ratio sebesar 10-20
  5. Tingkat keasaman (pH) kompos sebesar 6,5 – 7,57.
  6. Kapasitas pertukaran kation (KPK) tinggi, mencapai 110 me/100 gram
  7. Suhu kompos mendekati suhu ruang atau udara sekitar (30 – 35 0C)
  8. Daya absorbsi air tinggi.
  9. Jika digunakan pada tanah, kompos dapat memberikan efek menguntungkan bagi tanah dan pertumbuhan tanaman

Penggunaan Pupuk Organik

Pengaruh positif yang lain dari penambahan bahan organik adalah pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh salah satunya yaitu keadaan sifat fisik tanah. Sifat fisik tanah mempengaruhi pertumbuhan akar tanaman untuk mencari air dan unsur hara. Perkembangan akar tanaman membutuhkan kondisi tanah yang gembur. Akar tanaman tidak dapat berkembang dengan baik apabila tanah mengalami pemadatan, sehingga tanaman akan terganggu dalam menyerap air dan unsur hara. Pemberian bahan organik perlu dilakukan dapat mengoptimalkan kualitas fisik tanah sehingga tanaman bisa tumbuh optimal. Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain terhadap kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah, daya sangga tanah dan terhadap keharaan tanah.

Tanaman yang dipupuk dengan kompos cenderung mempunyai kualitas yang lebih baik daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misalnya: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak. Kompos mengandung hormon dan vitamin bagi tanaman, sehingga tanaman lebih tahan dari serangan hama penyakit.

sumber : http://cybex.pertanian.go.id/artikel/99631/pupuk-organik/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here