SISTIM INTEGRASI TANAMAN TERNAK MELALUI POLA PENGANDANGAN

0
10
views

Pola pengandangan ternak individu maupun kelompok masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Pola pengandangan ternak tergantung kondisi biofisik dan sosial setempat, pada daerah yang relatif aman petani lebih memilih pola pengandangan individu dan daerah yang kondisi sosialnya tidak kondusif petani lebih cendrung memilih pola pengandangan kelompok. Usaha pembibitan sapi dalam sistim integrasi tanaman dan ternak dapat menerapkan kandang kelompok model Grati.

 

Implementasi integrasi tanaman dan ternak bervariasi untuk setiap wilayah bergantung kepada kondisi geografis, ekologis serta sosial ekonomi setempat. Hal ini tercermin melalui pemilihan jenis ternak, sistim budidaya (penyedia bakalan atau penggemukan), sistim pengandangan (individu atau kelompok), komponen teknologi dan sistim kelembagaan. Penerapannya perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan, ramah lingkungan dan diterima masyarakat secara sosial .

Meskipun usaha ternak telah berkembang di masyarakat, sebagian besar petani memelihara ternak sebagai usaha sambilan dan tabungan yang setiap saat dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak. Manajemen pemeliharaan dilakukan secara konvensional, ternak dilepas sepanjang hari di padang penggembalaan. Tanpa banyak campur tangan manusia ternak akan menyesuaikan produksi dengan kondisi sumber daya alam dimana mereka dipelihara.

Sistim pemeliharaan ternak sapi yang digembalakan dengan berbagai alasan secara perlahan berubah dari sistim pemeliharaan tanpa kandang menjadi sistim pemeliharaan dengan kandang.  Penggembalaan mengalami alih fungsi menjadi areal pertanian atau pemukiman. Persaingan penggunaan lahan menyebabkan kapasitas tampung padang penggembalaan tidak lagi seimbang dengan kebutuhan per satuan ternak (ST). Hal ini menyebabkan ruang gerak ternak mencari makan di padang penggembalaan menjadi terbatas. Kondisi demikian memaksa petani mulai mengandangkan sapi miliknya dan secara otomatis diikuti perubahan pola pemberian pakan.

POLA PENGANDANGAN TERNAK

Pengandangan di Daerah Tanaman Hortikultura

Pemeliharaan ternak dengan sistim kandang ditandai dengan pemeliharaan ternak yang hampir terus menerus didalam kandang dan penyediaan rumput dilakukan oleh petani. Waktu yang dikorbankan untuk mencarikan rumput bagi ternak mendapat kompensasi dari terkumpulnya kotoran ternak yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman pertanian. Sistim ini berkembang di daerah tanaman pangan dan hortikultura, dalam hal ini disamping mengaritkan rumput maka peternak pada musim-musim tertentu akan menggunakan limbah tanaman pertanian untuk pakan ternak.

Pemeliharaan ternak di daerah tanaman pangan umumnya dilakukan sebagai usaha sambilan. Tujuan pemeliharaan ternak sapi adalah sebagai tenaga kerja mengolah sawah dan ladang, dan juga sebagai tabungan. Tingkat kepemilikan ternak berkisar antara 1-3 ekor, demikian juga kepemilikan lahan dan modal terbatas.

Kandang Individu dan Kandang Kelompok

Keuntungan pola pengandangan individu, petani lebih dekat dengan ternak dengan demikian pengaturan pemberian pakan dan minum lebih mudah. Disamping itu, pengandangan secara individu secara psikologis terjadi interaksi antara manusia dan ternak yang lebih intensif membuat ternak menjadi lebih jinak. Beberapa kelemahan kandang individu adalah keamanan menjadi tanggung jawab sendiri, penerapan teknologi reproduksi tidak dapat dilakukan secara baik serta pengolahan kotoran ternak tidak efisien.

Beberapa keuntungan pola pengandangan kelompok antara lain : keamanan ternak relatif terjamin, lingkungan perkampungan relatif bersih dan sehat, mempermudah untuk memperoleh informasi dan penerapan teknologi, mempermudah pembinaan dan penyuluhan, mempermudah pengawasan ternak secara berkelompok, mempermudah koordinasi kelompok dalam pemasaran ternak, sarana membina kebersamaan dalam pemeliharaan ternak dan pembersihan kandang, mempermudah pembuatan kompos secara berkelompok dan skala ekonomi agribisnis ternak mudah tercapai. Sedangkan kelemahannya antara lain : menyulitkan anggotan untuk mengontrol ternak secara lebih intensif, lokasi kandang jauh dari rumah, lahan terbatas untuk kandang kelompok dan pengaturan pemberian pakan dan minum pada ternak kurang teratur.

Kandang Kelompok Pembibitan Sapi Model Grati

Kandang kelompok Pembibitan Sapi Model Grati yaitu suatu ruangan kandang yang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk bersama dengan seekor pejantan yang diinginkan sehingga terjadi perkawinan dan ternak menjadi bunting. Namun apabila kandang kelompok bunting tidak tersedia, maka induk sapi yang telah bunting tua (8-9 bulan) dipisah dari kandang kelompok ke kandang individu (kandang beranak). Selanjutnya, induk yang sudah melahirkan dan pedet telah berumur 40 hari maka dari kandang beranak dipindah ke kandang kelompok kawin untuk melakukan proses reproduksi berikutnya.

Aplikasi kandang kelompok di petani dapat dilakukan dengan cara memperluas atau menambah pagar pembatas yang identik dengan kandang pelumbaran. Untuk mendukung keberhasilan reproduksi yang ditunjukkan oleh jarak beranak < 14 bulan, maka sistem perkawinan dalam kandang kelompok sebaiknya menggunakan pejantan terpilih dan apabila menggunakan teknologi kawin suntik (IB) maka dapat menggunakan pejantan pengusik (detektor). Penggunaan pejantan terpilih atau pejantan pengusik dalam kandang kelompok diharapkan dapat meningkatkan kejadian kebuntingan (conception rate) terutama bagi induk-induk sapi yang mengalami birahi tenang (silent heat).

Keberhasilan sapi induk untuk menghasilkan anak setiap tahun (< 14 bulan) merupakan syarat utama dalam usaha pembibitan sapi potong. Prestasi ini sulit dicapai pada kondisi pemeliharaan ekstensif, pakan yang terbatas serta pengetahuan maupun luangan waktu yang terbatas untuk pengamatan birahi  terutama pada sapi-sapi yang mempunyai komposisi darah Bos taurus (impor) yang relatif tinggi. Selain itu, sebagian besar sapi-sapi betina tersebut menunjukkan kejadian birahi pada malam hari dengan lama waktu birahi yang cukup singkat yaitu kurang dari 6 jam. dan menjadi bunting.

Melalui inovasi teknologi kandang kelompok diharapkan (i) jarak beranak (calving interval) sapi induk dapat diperpendek dari rataan 18 bulan menjadi 14 bulan, (ii) efisiensi usaha pemeliharaan/tenaga kerja meningkat diikuti oleh peningkatan skala pemeliharaan dari rataan 1-4 ekor menjadi lebih dari 5 ekor per kepala keluarga (KK) dan (iii) kesehatan ternak menjadi lebih baik. Berdasarkan bentuk dan fungsinya, tipe kandang yang digunakan untuk pembibitan sapi potong Model Grati� dibedakan menjadi dua, yaitu kandang kelompok dan kandang individu. Kandang kelompok berfungsi sebagai kandang kawin, pembesaran pedet sampai dengan disapih dan pembesaran pedet lepas sapih. Sedangkan kandang individu digunakan sebagai kandang untuk melahirkan (menjelang beranak) sampai dengan laktasi umur 40 hari. Di samping kedua jenis kandang di atas, terdapat juga kandang kelompok khusus sapi bunting. Kandang ini digunakan untuk sapi yang positif bunting lebih dari 5 bulan sampai kebuntingan 9 bulan. Sapi bunting tua dapat dideteksi melalui bentuk ambingnya yang mulai membesar sehingga harus segera dipindahkan dari kandang kelompok yang lebih baik dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada dan bukan memaksakan penggunaan kandang kelompok.

Pengandangan menjadi langkah yang efektif dalam meningkatkan efisiensi pemeliharaan ternak ketika menerapkan sistim integrasi tanaman dan ternak di kawasan usahatani. Peningkatan kebutuhan lahan akan areal pertanian dan pemukiman secara perlahan akan merubah pola pemeliharaan ternak dari sistim penggembalaan menjadi sistim pengandangan. Pemilihan jenis usaha, musim tanam dan masalah pemberian pakan merupakan kearifan lokal yang perspektif mendorong petani melakukan pengandangan ternak.

 

 

sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/98943/sistim-integrasi–tanaman-ternak-melalui-pola-pengandangan–/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here