Peran Penyuluh Pertanian Dalam Edukasi Penyakit Jembrana

0
1
views

Penyakit Jembrana adalah penyakit hewan menular pada sapi Bali yang disebabkan oleh virus. Wabah penyakit Jembrana pertama kali terjadi di Bali pada tahun 1964. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan pada saat wabah cukup besar karena angka kesakitan dan angka kematiannya relative tinggi. Disamping itu penyakit Jembrana dapat menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga hewan rentan terhadap penyakit lainnya. Oleh karena itu penyakit Jembrana dimasukkan kedalam daftar jenis penyakit hewan menular strategis yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian No.4026 Tahun 2013. Artinya penyakit Jembrana menjadi prioritas pengendalian dan penanggulangannya di daerah tertular dengan prioritas nasional. Pengendalian dan penanggulangan penyakit Jembrana dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.

“Sejauh ini tim petugas kesehatan hewan Dinas Pertanian telah diturunkan untuk melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak sapi yang ada di desa-desa di seluruh kecamatan. Vaksinasi merupakan salah satu cara mencegah kejadian penyakit jembrana namun yang tidak kalah penting adalah Program Komunikasi Informasi dan Edukasi terhadap petani ternak yang berada di daerah terancam terutama yang berbatasan dengan daerah tertular, terutama mengenai cara-cara pencegahan terhadap kemungkinan penyebaran wabah penyakit Jembrana. Optimalisasi Pemanfaatan media cetak dan elektronik dilakukan untuk menyebarluaskan informasi tentang ancaman dan/atau kejadian penyakit Jembrana yang menyerang sapi Bali serta kebijakan maupun pola pengendalian yang akan dan atau telah dilakukan.

Untuk itu keterlibatan penyuluhan pertanian dalam penyebaran informasi tentang ancaman dan kejadian penyakit Jembrana sangat diperlukan sehingga pencegahan dan penanganan kejadian penyakitnya lebih efektif. Penyuluh adalah ujung tombak pembangunan pertanian, sukses tidaknya program pemerintah terkait petani dan pertanian, sedikit banyak bergantung pada kemampuan penyuluh dalam menerjemahkan program tersebut.  Semakin tinggi kemampuan penyuluh dalam menerjemahkan, mengeksekusi dan berimprovisasi dilapangan maka semakin tinggi pula kemungkinan program tersebut berhasil.(Zdn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here